Opini
To Cerekang: Jaga Hutan, Jaga Kehidupan
Menjaga pesan leluhur merupakan simbol kuat sebagai identitas masyarakat Cerekang.
Oleh: Arlin
Sekretaris PM-WTC/Peserta Pelatihan Jurnalisme Warga ISF 2025 Pulitzer Center
TRIBUN-TIMUR.COM - NAREKKO Mujamai Panggale Ade’mu Makkasolangngi Ri Wanuammu (Jika manusia merusak alam, maka rusak pula kehidupanmu).
Itulah pesan leluhur yang menjadi pegangan bagi masyarakat adat To Cerekang.
Masyarakat adat To Cerekang menghuni Dusun Cerekang, Desa Manurung, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Provinsi Sulawesi Selatan.
Menjaga pesan leluhur merupakan simbol kuat sebagai identitas masyarakat Cerekang.
Pesan-pesan leluhur itu mengandung nilai-nilai budaya yang sangat penting untuk diwariskan ke generasi berikutnya dan sebagai penghormatan terhadap leluhur.
Selain menjaga kearifan lokal, masyarakat Cerekang juga menjaga kawasan hutan adat melalui organisasi kepemudaannya yaitu Pejuang Muda Wija to Cerekang (PM-WTC).
Pejuang Muda WTC diiniasi para pemuda Cerekang dan berdiri pada 22 Februari 2016.
Sampai hari ini PM-WTC merupakan kekuatan penting bagi masyarakat hutan adat Cerekang karena perhatiannya yang cukup kuat kepada kelestarian hutan adat.
Bisa dibilang organisasi ini merupakan gerakan kepemudaan garda terdepan dalam penyelamatan dan pelestarian hutan adat di Cerekang. Selain PM-WTC, masyarakat sekitar kawasan hutan adat To Cerekang juga terlibat dalam penjagaan hutan adat.
Bagi masyarakat Cerekang, kawasan hutan adat sangatlah penting bagi kehidupan, bahkan untuk kehidupan keseharian.
Kawasan hutan adat Cerekang terbagi ke dalam 10 spot hutan adat yang hingga kini dijaga dan dilestarikan.
Mulai dari wilayah pegunungan hingga kawasan pesisir. Salah satu dari beberapa kawasan hutan adat cerekang yang unik yaitu Lengkong.
Wilayah ini merupakan kawasan yang berada di pesisir yang memiliki luas 234,94 Hektare mencakup daratan dan perairannya.
Di kawasan hutan adat dilarang mengambil kayu atau tanaman yang berada dalam kawasan. Apabila memasuki dan mengambil apapun yang di dalam kawasan tersebut bisa menjadi pelanggaran adat.
Bukan saja di kawasan hutan, di wilayah perairan berupa sungai juga dilarang untuk melakukan penangkapan seperti udang, ikan, kepiting, buaya maupun satwa lainnya.
Tindakan menangkap satwa hutan dinyatakan melanggar aturan adat. Bagi masyarakat Cerekang hutan adat yang dikhususkan menjadi kawasan konservasi penuh, tidak dapat dimanfaatkan demi keuntungan materi.
Bahkan hutan nilainya lebih besar dari ukuran materi apapun.
Pejuang Muda WTC memiliki satu agenda penting berupa kegiatan patroli dan sekolah ekologi.
Kegiatan patroli dilakukan untuk memastikan kawasan hutan adat bebas dari ancaman pengerusakan maupun alih fungsi lahan menjadi tambak.
Pejuang Muda WTC melakukan pemasangan papan informasi di beberapa titik untuk memastikan papan informasi tersebut agar mudah dilihat oleh masyarakat yang berada di sekitar kawasan maupun masyarakat yang melintas sehingga tidak ada alasan lagi orang untuk masuk dalam kawasan tersebut.
Walaupun kawasan ini dilindungi atau dilarang dalam pemanfaatannya namun tidak dipungkiri bahwa masih ada beberapa kasus yang terjadi pada saat Pejuang Muda WTC melakukan patroli seperti masih adanya masyarakat yang memasang jaring atau pukat di kawasan adat cerekang (perairan) serta ditemukannya juga aktivitas dalam kawasan seperti pengambilan kayu atau pohon bakau.
Kawasan pesisir ini sangat penting bagi ekosistem yang ada di pesisir karena menjadi rumah bagi satwa-satwa yang hidup di kawasan hutan mangrove untuk berkembangbiak dan sebagai rumah bagi satwa lainnya.
Kawasan pesisir hutan adat cerekang yang berada di daerah pesisir bagi Pejuang Muda WTC masih sangat kesulitan dalam melakukan pengotrolan karena keberadaannya yang berada di pesisir dan lokasinya juga mencakup daratan hingga perairan.
Ekosistem hutan adat cerekang bagian pesisir ini dihuni juga ribuan bahkan ratusan kelelawar sehingga membuat perairan sekitar menjadi lebih subur melalui kotoran kelelawar.
Meski demikian keberadaan kelelawar ini di kawasan hutan adat cerekang menjadi target buruan karena nilai tawarnya cukup tinggi di pasaran.
Selama ini ancaman atas kegiatan penangkapan kalelawar masih terbilang sulit diantisipasi.
Terbukti, dalam suatu kasus Pejuang Muda WTC seringkali mengamankan perangkap kalelawar yang dipasang oleh masyarakat pendatang.
Sebagai tindakan tegas, perangkap-perangkap yang ditemukan segera dihancurkan.
Kawasan hutan adat cerekang ini amat penting dalam hal mencegah perubahan iklim karena hutan mangrove amat besar dalam penyerapan karbon dari efek rumah kaca.
Hutan mangrove memainkan peranan penting dalam menghadapi perubahan iklim seperti penyerapan karbon dioksida, membantu mengurangi emisi rumah kaca dan memerangi perubahan suhu.
Hutan mangrove melindungi kawasan pesisir karena akar mangrove yang kuat membantu mengikat tanah dan mencegah erosi pantai yang disebabkan oleh gelombang laut dan arus pasang laut.
Mangrove juga sebagai pemecah gelombang alami, melindungi wilayah pesisir dari dampak gelombang pasang tsunami.
Hutan mangrove juga menjaga ketahanan pangan karena dari beberapa jenis mangrove ada yang bisa di olah menjadi makanan atau minuman bagi masyarakat pesisir terutama di saat kondisi terjadinya perubahan iklim yang sangat ekstrem.
Mangrove juga menyimpan karbon biru dalam jumlah besar, sehingga dapat mengurangi laju perubahan iklim dan mangrove juga sebagai penyaring alami bagi air agar tetap jernih dan bersih.
Hutan mangrove juga merupakan tempat hewan aquatik seperti ikan, udang, kepiting.
Bahkan buaya muara sebagai tempat mencari makan dan tempat berlindung yang aman bagi hewan-hewan kecil.
Selain itu kawasan hutan mangrove tidak menutup kemungkinan tempat persinggahan yang aman dan nyaman bagi burung yang sedang melakukan perjalanan migran.
Sehingga upaya pelestarian dan penjagaan hutan magrove yang dimiliki MHA To Cerekang sangat penting untuk keberlanjutan ekosistem global dan kehidupan di bumi ini.
Dengan demikian walaupun teman-teman dari Pejuang Muda WTC sering melakukan patroli tidak menutup kemungkinan masih ada orang-orang yang bisa masuk dalam kawasan tersebut.
Karena kita bisa melihat sekitar kawasan hutan adat cerekang di bagian pesisir ini sudah dikelilingi tambak dan menjadi ancaman serius bagi kawasan tersebut sekaligus tantangan kedepan bagi Pejuang Muda WTC dalam menjaga dan melestarikan keberadaan kawasan hutan adat Lengkong.
Dengan demikian kami dari Pejuang Muda WTC yang memiliki peran penting dalam penyelamatan kawasan hutan adat yang berada di pesisir sangat mengharapkan adanya kerjasama dengan masyarakat luas dalam menjaga dan melestarikan hutan adat cerekang terutama pemerintah daerah.
Pemerintah provinsi bahkan pemerintah pusat kiranya dapat memberikan dukungan dan bantuan penuh dalam penyelamatan kawasan pesisir sebagai bentuk pelestarian lingkungan.
Pengelolaan sumberdaya yang berkelajutan hingga pengurangan resiko bencana yang terpenting sebagai pelestarian kearifan lokal dan budaya masyarakat adat to cerekang sebagai identitas yang kuat terhadap warisan leluhurnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/202050909-Arlin.jpg)