Opini
Mengapa Kita Marah dan Terbakar?
Penyulut demonstrasi yang menimbulkan eskalasi besar pasti terpicu karena api amarah yang tidak terkendali.
Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Founder Anak Makassar Voice
TRIBUN-TIMUR.COM - Telah terjadi insiden paling tragis pada penghujung Agustus 2025. Sebuah tragedi demonstrasi yang memakan korban jiwa. Ini sebuah penanda penting dalam perjalanan kesejarahan kita.
Kejadian pilu ini menyisakan puing-puing luka, menyisakan amarah yang belum usai, menyisakan banyak tanda tanya dan tentu menyisakan rasa sesal.
Penyulut demonstrasi yang menimbulkan eskalasi besar pasti terpicu karena api amarah yang tidak terkendali.
Penyebab api amarah ini bukan barang satu dua hari. Suasana ini adalah kumpulan rasa kecewa dan rasa tidak puas terhadap kinerja pemerintah sejak era Joko Widodo.
Lalu, apa yang menyebabkan kita gampang marah dan terbakar?
Era Jokowi
Sejak era Jokowi begitu banyak kebijakan kontroversial yang lahir, pembangunan yang tidak tepat sasaran, nepotisme, angka pengangguran dan PHK yang tinggi, jumlah penduduk miskin, korupsi yang mengakar, lahirnya RUU yang hanya menguntungkan segelintir elite, represivitas aparat kepolisian-penembakan massa demonstrasi mengakibatkan korban jiwa-tragedi Kanjuruhan, hingga pada masa transisi.
Rezim Jokowi mempertontonkan nepotisme melalui perubahan batas usia di Mahkamah Konstitusi yang melegalkan Gibran Rakabuming Raka menjadi calon Wakil Presiden. Ini sesuatu yang dianggap cacat konstitusi.
Belum usai di situ, untuk menguatkan posisi Jokowi pasca menjabat ia tentu membutuhkan pion dan sosok pelanjut yang akan melanjutkan program dan kebijakannya, termasuk melanjutkan pembangunan Ibu Kota Negara baru yang sebenarnya tidak berbasis kebutuhan rakyat hari ini, dan tentu agar kepentingan-kepentingan politik dan keluarganya berjalan dengan mulus.
Hingga ia ikut cawe-cawe dan turun langsung dalam pemenangan Prabowo Subianto dengan menggunakan instrumen dan lembaga negara untuk memuluskan kepentingannya dan semua berjalan sesuai rencana.
Pada akhirnya, kerusakan yang sangat dahsyat ini berawal di era Joko Widodo.
Era Prabowo
Rupanya kerusakan ini tidak berakhir di era Jokowi. Era berikutnya karena menggunakan tagline berkelanjutan, hingga rezim Prabowo Subianto melakukan hal serupa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250815-Andi-Yahyatullah-Muzakkir.jpg)