Opini
Firasat Demokrasi
Korupsi menjadi tindakan yang merusak siklus perekonomian dan melemahkan semangat para pekerja keras.
Oleh A. Rahman
Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sulawesi Selatan periode 2005-2007
TRIBUN-TIMUR.COM - Alam demokrasi masih setia memberi isyarat tentang kebenaran dan keadilan.
Udara yang berhembus dari akumulasi tangisan lirih, nafas yang tersengal, hembusan nafas keputus asaan dan kemarahan rakyat membawa isyarat bahwa ada sekian banyak skenario yang melemahkan bahkan menyudutkan kekuatan rakyat.
Adalah korupsi sebagai perilaku yang paling berpengaruh dalam menurunkan indeks demokrasi.
Korupsi menjadi tindakan yang merusak siklus perekonomian dan melemahkan semangat para pekerja keras.
Ujungnya, kepercayaan rakyat kepada pemerintah pun hilang.
Sistem yang memiskinkan rakyat lebih cenderung dimaknai sebagai upaya untuk menjaga ritme kekuasaan.
Dalam setiap pengambilan keputusan demokrasi, suara rakyat bisa dikontrol dengan praktik money politic.
Upaya mempertahankan kualitas pendidikan masyarakat hanya berada pada tingkat rata-rata.
Rakyat masih kesulitan memahami posisi dan kedudukannya. Kondisi ini lebih dimaksudkan untuk menutup mata dan telinga rakyat terhadap penyimpangan kekuasaan dari amanah demokrasi.
Isyarat buruk semakin menguat ketika praktik suap dan transaksi pada oknum penegak hukum mengemuka.
Rakyat semakin berada pada posisi yang tersudutkan, padahal merekalah kekuatan legitimasi demokrasi yang justru diabaikan setelah kekuasaan berjalan.
Kenaikan harga bahan pokok, setelah perjuangan panjang mempertahankan harga komoditi pertanian, menjadi pukulan terberat bagi rakyat.
Situasi ini memicu kemarahan sistemik yang diperparah oleh perilaku yang menyakiti hati dan perasaan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/A-Rahman-512.jpg)