Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kunci Sukses UMKM Bundaku’e Tetap Eksis, Kini Buka Cabang Terbaru di Antang Makassar

Sejak didirikan tahun 2010, Bundaku’e kini memiliki enam outlet atau cabang di Makassar dan Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Rudi Salam
CABANG BARU - Owner generasi kedua Bundaku’e, Tri Utami Yusgar, sedang merapikan produk di outlet Jalan Tinumbu, Makassar, Sulsel, Kamis (7/5/2026). Bundaku’e kini membuka cabang baru di Jalan Antang Raya, Makassar. 

Saat ini, produk yang paling banyak diminati pelanggan adalah Fudgy Brownies, brownies modern dengan sekat dan beragam topping yang dianggap lebih praktis untuk dinikmati.

“Fudgy Brownies sekarang jadi favorit, terutama di kalangan generasi Z karena tampilannya menarik dan praktis untuk langsung dimakan. Harganya mulai Rp33 ribu,” jelas ibu tiga anak tersebut.

Baca juga: Rumah BUMN Makassar, Denyut Nadi Kebangkitan Ekonomi dan Asa yang Tak Pernah Padam Bina UMKM

Selain Fudgy Brownies, produk Bolen yang telah lama menjadi ciri khas Bundaku’e juga masih mempertahankan popularitasnya di kalangan pelanggan setia dengan harga mulai Rp30 ribu.

Menariknya, di tengah kenaikan harga bahan baku utama seperti mentega, terigu, dan gula pasir yang mencapai sekitar dua persen, manajemen Bundaku’e memilih untuk tidak menaikkan harga jual produk.

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk komitmen menjaga daya beli dan loyalitas pelanggan.

“Kami lebih memilih melakukan efisiensi di sisi operasional dibanding membebankan kenaikan harga kepada pelanggan. Kondisi ekonomi saat ini membuat kami harus lebih bijak menjaga hubungan dengan konsumen,” kata Tri Utami.

Keputusan itu menjadi salah satu bentuk konsistensi Bundaku’e dalam mempertahankan eksistensi bisnis yang telah dirintis sejak 2010.

Selama 15 tahun tahun lebih berjalan, Bundaku’e terus berkembang dari usaha rumahan menjadi jaringan bakery dengan banyak cabang.

Bagi Tri Utami, keberhasilan mempertahankan bisnis selama lebih dari satu dekade bukan hanya soal produk.

Tetapi juga kemampuan membaca pasar dan membangun sistem kerja yang disiplin.

“Kuncinya konsisten. Kami terus belajar menganalisis pasar dan membangun sistem data manufaktur supaya setiap keputusan bisnis yang diambil benar-benar tepat sasaran,” tutur Tri Utami.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved