Kisah Suci dan Mimpi Besar di Balik Renyahnya Bawang Goreng Dapur Sakinah
Dengan peralatan seadanya, Suci mulai belajar mengiris bawang, mengatur panas minyak, hingga menghasilkan bawang goreng renyah dan tahan lama
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Di sebuah rumah sederhana di Perumahan Griya Asri Tambora Blok B No.10, Taman Nyeleng Barombong, aroma bawang goreng yang gurih hampir tak pernah benar-benar hilang dari udara.
Dari dapur kecil itulah, seorang ibu rumah tangga bernama Suciati menata harapan, merawat mimpi, sekaligus membangun masa depan untuk anak istimewanya.
Usaha itu diberi nama Dapur Sakinah, nama yang lahir dari cinta seorang ibu kepada buah hatinya.
“Nama Sakinah saya ambil dari nama anak saya, dengan harapan ada keberkahan didalamnya” tutur perempuan yang akrab disapa Suci itu, Kamis (7/5)
Perjalanan usaha Suci tidak dimulai dari modal besar atau dapur modern. Semuanya bermula dari kesepian dan kegelisahan saat sang suami merantau ke Pulau Jawa.
Di rumah, Suci menjalani hari-hari dengan mengurus rumah tangga sekaligus merawat anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian ekstra.
Setelah semua pekerjaan selesai, ia sering merasa tidak betah hanya duduk diam. Hingga suatu hari, seorang sepupu menawarkan ide sederhana: mencoba usaha bawang goreng.
Dari tawaran kecil itu, lahirlah perjuangan panjang.
Dengan peralatan seadanya di dapur rumah, Suci mulai belajar mengiris bawang, mengatur panas minyak, hingga memahami bagaimana menghasilkan bawang goreng yang renyah dan tahan lama. Tidak selalu berhasil. Kadang hasilnya terlalu matang, kadang gosong. Namun ia terus mencoba.
“Awalnya memang sering gagal, tapi saya terus belajar sampai menemukan hasil yang memuaskan,” ujarnya.
Di balik setiap kemasan bawang goreng premium Dapur Sakinah, ada cerita tentang tangan yang pegal karena mengiris bawang berjam-jam, mata yang dulu mudah berair, hingga perjuangan membagi waktu antara menjadi ibu dan pelaku usaha.
“Kalau awal-awal mengiris bawang memang sering bikin menangis,” katanya sambil tersenyum. “Tapi lama-lama sudah terbiasa.”
Kesulitan terbesar justru datang dari keterbatasan alat produksi dan modal usaha. Semua dijalani perlahan. Setelah pekerjaan rumah selesai, barulah Suci mengerjakan pesanan dari toko-toko langganannya.
Saat lelah datang, sosok anaknya menjadi penguat terbesar. “Yang selalu menguatkan saya ya Sakinah,” ucapnya lirih.
Meski hanya bawang goreng, Suci percaya produknya bisa tumbuh menjadi usaha besar. Ia menjaga kualitas dengan penuh kesabaran, mulai dari memilih bawang terbaik, menjaga kestabilan panas minyak, hingga memastikan hasil gorengan tetap renyah sempurna.
| Cerita Inspiratif Dimitri, UMKM Vinlandak Kini Masuk Ritel Besar hingga Hotel Mewah |
|
|---|
| Perempuan Berdaya, Tetangga Sejahtera Berkat BRIncubator |
|
|---|
| Rumah BUMN Makassar, Denyut Nadi Kebangkitan Ekonomi dan Asa yang Tak Pernah Padam Bina UMKM |
|
|---|
| Lombok Kuning Simpati, Dari Meja Bakmi Keluarga Menuju Pasar Dunia Melalui Sentuhan Rumah BUMN |
|
|---|
| Telkom Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas Lewat Kartini BISA |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260607_DWN_Bawang_Goreng_Sakinah.jpg)