Harga Minyak Meroket dan Rupiah Melemah, Pakar Nilai APBN Rawan Jebol
Pakar Energi Universitas Hasanuddin Prof Bachtiar Nappu menilai blokade selat Hormuz bukan sekadar tekanan biasa
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ari Maryadi
Ringkasan Berita:
- Pakar Energi Universitas Hasanuddin Prof Bachtiar Nappu menilai Blokade Selat Hormuz bukan sekadar tekanan biasa
- Pemerintah Indonesia kini tengah menghadapi situasi tekanan dari berbagai sisi
- Indonesia dihadapkan pada pilihan menjaga kebutuhan BBM dengan memperkuat pasokan impor dari negara lain
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Indonesia memasuki fase krusial dalam menghadapi gejolak global yang kian kompleks.
Konflik Timur Tengah belum mereda selama sebulan terakhir, dampaknya kini terasa semakin dekat ke dalam negeri.
Blokade Selat Hormuz menjadi titik balik mempertegas kerentanan sektor energi global.
Jalur sempit yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak mentah dan gas dunia itu kini tersendat.
Memicu efek domino terhadap pasokan dan harga energi, termasuk di Indonesia.
Pakar Energi Universitas Hasanuddin Prof Bachtiar Nappu menilai situasi ini bukan sekadar tekanan biasa.
Pemerintah, kata dia, tengah menghadapi situasi tekanan dari berbagai sisi.
"Kita ada double hit, disamping kelangkaan BBM dengan Harga minyak tinggi, juga keadaan fiskal kita (terdampak) dengan naiknya Harga itu kita harus bayarkan US Dollar, rupiah sudah di posisi Rp 17 ribu. Ini sinyal alarm keras, ini lampu kuning bagi pemerintah memasuki fase beberapa bulan kedepan," ujar Prof Bachtiar Nappu kepada Tribun-Timur.com, pada Selasa (31/3/2026).
Situasi ini diproyeksikan tidak hanya berdampak jangka pendek, berpotensi menyeret Indonesia ke dalam fase tekanan ekonomi yang lebih panjang.
Ketergantungan pada impor energi membuat setiap gejolak global langsung tercermin pada beban anggaran negara.
Indonesia dihadapkan pada pilihan menjaga kebutuhan BBM dengan memperkuat pasokan impor dari negara lain.
Namun kebijakan itu justru rawan menjebol APBN sebab harga minyak dunia yang meroket tajam.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi faktor yang memperparah situasi.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat biaya impor energi melonjak tajam, mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk melakukan intervensi.
| Antisipasi Lonjakan Iduladha, Pertamina Sulawesi Tambah Pasokan Solar 20 Persen di Sulbar |
|
|---|
| Bongkar Sindikat BBM Subsidi, 8 Hari Polisi Kawal Tanker MT Bakti I dari Kalteng |
|
|---|
| Naik 117 Persen dari HET, Harga Gas LPG 3 Kg di Luwu Timur Tembus Rp 50 Ribu Per Tabung |
|
|---|
| Pria di Bone Cuan Rp30 Ribu per Jerigen Hasil Penyelewengan BBM Bersubsidi |
|
|---|
| Sosok Taufik Herdiansyah Bongkar Mafia BBM Subsidi di Sulsel, Baru 8 Hari Menjabat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260331-Prof-Bachtiar-Nappu-34.jpg)