Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Cegah Tawuran Pemuda, Ketua RT RW di Parang Makassar Diminta Aktif Edukasi Warga

Salah satu wilayah yang kerap terdampak konflik adalah Kelurahan Parang, Kecamatan Mamajang.

Penulis: Siti Aminah | Editor: Saldy Irawan
ISTIMEWA
LURAH PARANG - Lurah Parang, Irwan Awing, mengungkapkan bentrok yang terjadi di wilayahnya seringkali melibatkan pemuda dari Kelurahan Parang dan Kelurahan Maccini Sombala, yang berada di Kecamatan Tamalate.Jumat (26/9/2025). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Maraknya konflik antar kelompok pemuda di Kota Makassar menjadi perhatian serius pemerintah setempat.

Tidak hanya meresahkan warga, aksi kekerasan ini juga menciptakan ketakutan di tengah masyarakat, terutama di wilayah yang berbatasan langsung antar kecamatan.

Salah satu wilayah yang kerap terdampak konflik adalah Kelurahan Parang, Kecamatan Mamajang.

Lurah Parang, Irwan Awing, mengungkapkan bentrok yang terjadi di wilayahnya seringkali melibatkan pemuda dari Kelurahan Parang dan Kelurahan Maccini Sombala, yang berada di Kecamatan Tamalate.

“Ini wilayah perbatasan, jadi gesekan sangat mudah terjadi, apalagi kalau pemudanya tidak dibekali dengan pemahaman dan kesadaran sosial yang cukup,” kata Irwan, Jumat (26/9/2025).

Menurutnya pelaku konflik mayoritas adalah anak-anak usia SMP hingga SMA. 

Mereka masih berada dalam fase labil dan mudah terpengaruh lingkungan. 

Ia menyebut, anak-anak ini sebenarnya sedang dalam proses mencari jati diri, namun tanpa bimbingan yang tepat, mereka bisa terseret dalam perilaku menyimpang.

“Kalau saya lihat langsung di lapangan, yang sering berkonflik ini rata-rata anak SMP. Mereka belum paham betul dampak dari tindakan mereka. Maka dari itu, mereka perlu pendekatan yang lebih personal dan edukatif,” lanjutnya.

Irwan menilai bahwa upaya pencegahan konflik tidak bisa hanya dilakukan oleh aparat keamanan atau pemerintah saja.

Ia meminta agar seluruh lapisan masyarakat, terutama ketua RT dan RW, turut terlibat aktif dalam mendampingi serta mengedukasi para remaja di wilayah masing-masing.

“Peran RT/RW sangat vital. Mereka adalah ujung tombak pemerintahan paling dekat dengan warga. Kalau mereka aktif menyapa dan merangkul anak-anak muda ini, saya yakin angka konflik bisa ditekan,” ujarnya.

Lebih jauh, Irwan menyebut pendekatan yang dilakukan kepada para pemuda sebaiknya dilakukan secara santai, tidak formal, dan tidak terkesan menggurui.

Ia sendiri mengaku lebih sering mengenakan pakaian kasual saat turun langsung ke masyarakat agar bisa diterima dengan lebih terbuka.

“Kalau saya datang pakai seragam lengkap, kadang mereka takut atau canggung. Tapi kalau saya pakai kaos biasa, ngobrol di warkop atau di pinggir jalan, mereka malah lebih terbuka. Di situlah saya selipkan pesan-pesan moral,” ungkapnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved