Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Forum Dosen Tribun

Prof Hamid Paddu: Ketimpangan Kian Terasa, Masyarakat Kelas Menengah Ditinggal Pemerintah

Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Hamid Paddu menilai ada penyakit di sosial ekonomi di Indonesia.

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
Tribun-Timur.com
KETIMPANGAN SOSIAL - Prof Hamid Paddu saat menjelaskan pandangannya dalam Dialog Forum Dosen tentang pemulihan bangsa di Kantor Tribun-Timur.com, Jl Opu Dg Risadju pada Rabu (3/9/2025). Prof Hamid Paddu menekankan pada ketimpangan sosial masyarakat kelas atas, menengah dan bawah. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketimpangan jadi persoalan mendasar terjadi di Indonesia.

Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Hamid Paddu menilai ada penyakit di sosial ekonomi di Indonesia.

Berangkat di masa lampau, keresahan masyarakat dimotori langsung pada pendekatan nyata.

Pilar demokrasi dalam gerakan mahasiswa mampu mengkomunikasikan keresahan masyarakat.

Lembaga tradisional seperti organisasi mahasiswa, organisasi masyarakat hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) jadi motor gerakan.

Namun transformasi kini terjadi dalam gerakan era modern.

"Kita pikir alatnya lama. Yang komunikasikan fakta lapangan adalah digital, itu hitungan detik. Komunikasi ini tidak terfilter dan hoaks diputar balik untuk kepentingan pemilik digital," kata Prof Hamid Paddu dalam Dialog Forum Dosen tentang pemulihan bangsa di Kantor Tribun-Timur.com, Jl Opu Dg Risadju pada Rabu (3/9/2025).

Digitalisasi dinilai telah berkembang menjadi motor gerakan di era modern.

Kondisi ini makin membuka ketimpangan yang terjadi di Indonesia.

Parahnya, Prof Hamid Paddu melihat pendidikan informasi dalam media sosial sebagai produk digital mendekat dengan kemarahan.

Aksi demonstrasi beberapa pekan terakhir banyak melibatkan pelajar dibawah umur.

Prof Hamid Paddu melihat inilah hasil dari pendekatan kemarahan tersiar dalam digitalisasi tersebut.

"Jadi kemarin banyak bergerak anak SMP yang pegang hp. Ternyata ada TikTok membimbing langsung rakyat bergerak," jelas Prof Hamid Paddu.

Ia menyebut diperlukan 'sekolah rakyat', dalam asosiasinya memberikan pencerahan informasi, ekonomi dan sosial.

Jangan membayangkan 'sekolah rakyat' sebagai bangunan, Prof Hamid menyebutnya sebagai proses mendidik.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved