Provinsi Luwu Raya
Dari Kampung 'Ojek Termahal' Dirga Tuntut Negara Lebih Dekat Lewat DOB Luwu Raya-Luwu Tengah
Dirga, pemuda Seko, menuntut DOB Luwu Raya–Luwu Tengah agar negara lebih dekat dengan rakyat di kampung “ojek termahal” se-Indonesia…
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Sukmawati Ibrahim
Dirga menepis, keingunan itu sebagai ambisi politik belaka.
Tetapi sudah menjadi kebutuhan agar negara lebih dekat dengan masyarakat.
"Wilayah (Sulsel) yang terlalu luas membuat pelayanan publik sulit merata, dan pemekaran menjadi cara logis untuk memperpendek jarak tersebut," tambah Dirga.
Ia menyentil, kebijakan pembangunan Pemprov Sulsel yang jarang memerhatikan wilayah Seko.
Kata Dirga, keterbatasan jangkauan birokrasi untuk melihat langsung kondisi riil Seko menjadi penyebab.
"Banyak kebijakan bagus di tingkat kabupaten dan provinsi, tetapi pelaksanaannya lemah ketika sampai di daerah terpencil," jelasnya.
Ia menilai, terbentuknya DOB Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah jadi solusi perencanaan dan pengawasan pembangunan yang merata.
Karena penyelenggara pemerintah baru bisa lebih fokus dan sesuai dengan kondisi wilayah terpencil.
Seperti Seko yang selama ini Dirga rasa berada di pinggir prioritas pembangunan.
"Pengalaman hidup di Seko menunjukkan bahwa kebijakan yang dekat secara administratif lebih mudah dirasakan manfaatnya. Karena itu, pemekaran wilayah perlu dipandang sebagai alat kebijakan yang rasional dan sah, untuk memperkuat pelayanan dan mempercepat pembangunan dari wilayah pinggiran," terangnya.
Dirga menerangkan pemekaran wilayah bisa menjadi pilihan jika disiapkan dengan perhitungan fiskal dan kelembagaan yang matang.
Pemuda asal Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu, Mahfud, berpendapat sama dengan Dirga.
Mahfud menilai tuntutan itu timbul karena keresahan masyarakat yang menginginkan kesejahteraan.
Terutama pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang begitu melimpah di Luwu Raya (Luwu, Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur).
Kata Mahfud, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Luwu Raya menghadapi anomali pembangunan.
| Ketua Komisi II DPR RI Minta Kajian DOB Luwu Raya Dibuat Lebih Objektif |
|
|---|
| Komisi II DPR RI Kumpul Kepala Daerah Se-Luwu Raya di Rujab Gubernur Sulsel Bahas Pemekaran |
|
|---|
| Pemekaran Luwu Raya, PT Vale Tetap Patuh Aturan dan Jalankan Program Pemberdayaan |
|
|---|
| Dirjen Otda Sebut 370 Draft DOB Menumpuk, Luwu Raya Belum Pasti 2026 |
|
|---|
| Nasib Draft Luwu Raya Tertahan di Kemendagri, Ini Alasan Dirjen Otonomi Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-5-feb-dirge.jpg)