Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Proyek Sungai Tallo

DPRD Sulsel Stop Proyek Tanggul Sungai Tallo

Proyek ini menuai polemik setelah warga mengklaim sebagai ahli waris mengaku lahannya belum diganti rugi.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
SUNGAI TALLO - Headline Tribun Timur edisi Kamis (8/1/2026). DPRD Sulsel meminta proyek Sungai Tallo dihentikan sementara. 

Ia menambahkan, kejanggalan lain adalah pembayaran ganti rugi justru dilakukan oleh pihak kontraktor, bukan pemerintah.

“Di situlah persoalan seriusnya. Ini menyangkut tata kelola pemerintahan yang harus transparan dan akuntabel,” ujarnya.

Ismail menilai langkah Komisi D menghentikan sementara proyek tersebut sudah tepat. Menurutnya, persoalan ini bukan masalah personal satu orang, melainkan menyangkut sistem.

Sementara itu, Roslina selaku perwakilan ahli waris Barakka Daeng Pato mengaku berterima kasih atas RDP yang digelar DPRD Sulsel.

“Saya hanya mau tanah orang tua saya diganti rugi atau dibebaskan sebelum pengerjaan dilanjutkan,” ujarnya.

Persoalan pembebasan lahan proyek ini sebelumnya sempat viral di media sosial. Seorang emak-emak terlihat menghadang alat berat yang hendak menimbun jalan di lokasi proyek.

Aksi tersebut terjadi di jalan samping Sungai Tello, Jalan Urip Sumoharjo Kilometer 7, Kelurahan Tello Baru, Kecamatan Panakkukang.

Dalam unggahan akun Instagram makassar.iinfo, terdengar emak-emak berteriak meminta alat berat dihentikan.

Unggahan tersebut diposting sekitar pukul 16.50 Wita dan mendapat lebih dari 1.100 tanda suka serta puluhan komentar warganet.

Pantauan Tribun di lokasi pada Kamis (11/12/2025), tiga alat berat berada di area proyek. Dua di antaranya tengah melakukan penimbunan lahan untuk badan jalan.

Perempuan yang viral dalam video tersebut diketahui bernama Roslina (37). Ia merupakan anak pertama dari lima bersaudara, putri pasangan Hj Asse (61) dan almarhum Ady.

Hj Asse mengaku sebagai ahli waris Barakka bin Pato. Ia menyebut memprotes pengerjaan proyek karena lahan orang tuanya belum diganti rugi.

Sebelum aksi protes itu viral, Roslina mengungkapkan ratusan personel kepolisian dan Satpol PP sempat dikerahkan ke lokasi.

“Waktu itu sekitar 300 personel, dari polisi, Brimob, sampai Satpol PP,” kata Roslina.

“Mereka memaksa mengerjakan lahan kami tanpa pemberitahuan sebelumnya,” sambungnya. Aksi penimbunan pun tetap dilakukan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved