Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kenalkan Prof Kembong Daeng, Profesor UNM Penulis Buku Mata Pelajar Bahasa Makassar

Idris Safa, menegaskan peluncuran ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi muatan lokal

Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com
Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Kembong Daeng 

Ringkasan Berita:
  • Prof Kembong Daeng menulis buku mata pelajaran Bahasa Makassar
  • Buku diluncurkan dirangkaikan seminar dan sosialisasi pembelajaran Bahasa Makassar di Gedung BBPMP Sulawesi Selatan, Jalan AP Pettarani, Rabu (15/4/2026)
  • M. Idris Safa, menegaskan peluncuran langkah strategis memperkuat posisi muatan lokal di dunia pendidikan

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Kembong Daeng, tampil di garda depan melalui penulisan buku mata pelajaran Bahasa dan Budaya Makassar untuk jenjang SMP/MTs.

Buku tersebut resmi diluncurkan oleh PT Yudhistira Ghalia Indonesia dalam sebuah kegiatan di Gedung BBPMP Sulawesi Selatan, Jalan AP Pettarani, Rabu (15/4/2026).

Peluncuran ini tidak sekadar seremoni, melainkan dirangkaikan seminar dan sosialisasi pembelajaran Bahasa Makassar sebagai bahasa ibu di sekolah.

Tiga seri buku yang diperkenalkan masing-masing diperuntukkan bagi kelas VII, VIII, dan IX.

Seluruhnya disusun berbasis Kurikulum Merdeka dengan pendekatan kontekstual yang dirancang lebih dekat dengan realitas kehidupan siswa, sekaligus mendorong minat belajar yang lebih tinggi.

Kepala Cabang PT Yudhistira Ghalia Indonesia Area Sulawesi, M. Idris Safa, menegaskan peluncuran ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi muatan lokal di dunia pendidikan. 

Ia menilai, inovasi dalam metode pembelajaran menjadi kunci agar bahasa daerah tidak ditinggalkan generasi muda.

“Jika dikemas dengan model pembelajaran yang menarik, minat siswa terhadap Bahasa Makassar akan tumbuh lebih baik,” ujarnya.

Idris juga melihat potensi pasar buku di Makassar dan Sulawesi Selatan masih sangat terbuka.

Bahkan, pihaknya telah menyiapkan rencana pengembangan buku serupa untuk bahasa daerah lain seperti Bugis, Mandar, dan Toraja.

Namun lebih dari sekadar produk pendidikan, buku ini membawa misi kultural yang kuat.

Prof. Kembong menegaskan bahwa buku yang disusun tidak hanya berfungsi sebagai bahan ajar, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan karakter berbasis nilai-nilai budaya lokal. Di dalamnya telah dilengkapi capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, aktivitas, hingga evaluasi berupa soal esai dan pilihan ganda.

“Bahasa Makassar harus menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Ini bukan sekadar pelajaran, tetapi upaya melestarikan jati diri,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegas bahwa bahasa daerah tidak boleh terpinggirkan di ruang-ruang pendidikan formal.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved