Headline Tribun Timur
Prof JJ: The Winner Takes All
Prof JJ sapaannya, menang telak pada putaran final. Ia mengontrol 23 suara, unggul jauh dari dua pesaingnya.
Keberhasilan lainnya mencakup kepastian legalitas aset, penguatan akuntabilitas keuangan, pembangunan infrastruktur akademik dan riset, akreditasi dan layanan kesehatan unggul, integritas dan reformasi birokrasi, standar nasional dan pengakuan kualitas, serta inisiatif menuju kemandirian pendanaan Unhas.
Dari keseluruhan capaian tersebut, Prof JJ menegaskan terdapat lima keberhasilan utama yang dinilai paling strategis dan berdampak langsung terhadap reputasi Unhas.
Salah satunya adalah peningkatan signifikan dalam pemeringkatan internasional.
Menurut Prof JJ, program QS University Ranking yang menjadi bagian dari Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menunjukkan lonjakan yang sangat positif.
“QS University Ranking dalam IKU Kemendiktisaintek kita naik secara eksponansial, termasuk di tingkat Asia,” ujar Prof JJ.
Saat ini, Universitas Hasanuddin berada pada peringkat 201 QS Asia Ranking, serta masuk dalam rentang peringkat 951–1000 dunia versi QS University Ranking.
Selain pemeringkatan global, Prof JJ juga membanggakan prestasi mahasiswa Unhas pada ajang Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas).
Unhas mencatat sejarah dengan meraih juara pertama Pimnas pada 2024, dan berhasil mempertahankan gelar tersebut pada 2025.
“Unhas cetak sejarah. Tahun 2024 kita juara satu Pimnas dan 2025 kita pertahankan. Ini akan terus kita jaga,” katanya.
Dalam konteks tata kelola dan administrasi, Prof JJ menyebut Unhas menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang meraih Gold Standard dalam pengelolaan administrasi selama dua tahun berturut-turut.
Di bidang keberlanjutan, Unhas juga memperoleh pengakuan global melalui SDGs Awards, serta dinobatkan sebagai peringkat pertama dalam penilaian yang dilakukan oleh Bapanas.
Tak hanya memaparkan capaian, Prof JJ juga menyampaikan arah dan program kerja ke depan yang dirancang untuk memperkuat posisi Unhas sebagai perguruan tinggi berkelas dunia.
Program kerja tersebut mencakup penguatan pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkarakter, unggul, dan berdaya saing global, serta pengembangan riset dan inovasi bereputasi yang terhubung dengan jejaring internasional.
Selain itu, konsep Kampus Berdampak menjadi fokus utama melalui hilirisasi riset dan pengabdian masyarakat yang berkontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.
Prof JJ juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia yang unggul dan berjejaring nasional hingga global, pembangunan infrastruktur yang modern dan ramah lingkungan, serta peningkatan reputasi Unhas dalam berbagai pemeringkatan nasional dan internasional.
Sebagai PTNBH, Unhas juga diarahkan menuju kemandirian pendanaan yang semakin kuat.
Seluruh program tersebut ditopang oleh komitmen terhadap tata kelola kelembagaan yang modern, transparan, agile, dan bertanggung jawab.
Pemaparannya tersebut menjadi salah satu faktor yang dinilai mampu meyakinkan anggota Majelis Wali Amanat dalam menentukan arah kepemimpinan Universitas Hasanuddin ke depan.
Jejak Unhas
Universitas Hasanuddin resmi berdiri pada 10 September 1956 di Kota Makassar sebagai wujud perjuangan panjang masyarakat Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur dalam menghadirkan perguruan tinggi negeri.
Lahirnya Unhas tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses historis yang diawali sejak masa kolonial dan masa awal kemerdekaan.
Cikal bakal Unhas berawal dari berdirinya Fakultas Ekonomi di Makassar pada 1947.
Ini cabang Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jakarta, yang didirikan berdasarkan Keputusan Letnan Jenderal Gubernur Pemerintah Hindia Belanda Nomor 127 tanggal 23 Juli 1947.
Pada masa awal, Fakultas Ekonomi dipimpin oleh L.A. Enthoven sebagai direktur.
Namun, kondisi keamanan dan ketidakstabilan politik di Makassar dan sekitarnya menyebabkan kegiatan fakultas ini terhenti dan akhirnya dibekukan.
Setelah situasi berangsur membaik, Fakultas Ekonomi kembali dibuka pada 7 Oktober 1953 sebagai cabang Fakultas Ekonomi UI di bawah pimpinan Prof G.H.M. Riekerk.
Sejak saat itu, Fakultas Ekonomi mulai berfungsi secara aktif dan menjadi fondasi penting bagi pembentukan universitas negeri di Makassar.
Pada 1 September 1956, Fakultas Ekonomi dipimpin Prof Wolhoff sebagai ketua sementara dengan Muhammad Baga sebagai sekretaris, dan secara nyata menjadi embrio Unhas hingga peresmian.
Di tengah stagnasi Fakultas Ekonomi pada akhir tahun 1950-an, muncul semangat dan inisiatif dari sejumlah tokoh untuk memperjuangkan berdirinya universitas negeri.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain Nuruddin Sahadat, Prof G.J. Wolhoff, Mr. Tjia Kok Tjiang, dan J.E. Tatengkeng.
Upaya mereka melahirkan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading, sebuah lembaga menjadi wadah perjuangan pendidikan tinggi di Sulawesi Selatan.
Perjuangan ini kemudian diperkuat dengan terbentuknya Panitia Pejuang Universitas Negeri pada bulan Maret 1950.
Langkah strategis selanjutnya adalah pendirian Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat sebagai cabang Fakultas Hukum Universitas Indonesia, yang resmi berdiri pada 3 Maret 1952.
Fakultas ini dipimpin oleh Prof Djokosoetono sebagai dekan pertama, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum UI.
Dalam perkembangannya, Fakultas Hukum Unhas dipimpin oleh Prof C de Heern dan kemudian Prof G.H.M Riekerk.
Berkat semangat kerja, kemandirian, dan pengabdian yang tinggi, Fakultas Hukum mampu melepaskan diri dari Universitas Indonesia dan menjadi bagian dari universitas negeri yang mandiri melalui Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1956, tertanggal 10 September 1956.
Perjuangan pendirian universitas juga ditandai dengan upaya membentuk Fakultas Kedokteran.
Melalui Yayasan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading, dicapai kesepakatan dengan Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP dan K) yang ditetapkan dalam rapat Dewan Menteri pada 22 Oktober 1953.
Selanjutnya dibentuk Panitia Persiapan Fakultas Kedokteran Makassar yang diketuai Syamsuddin Daeng Mangawing, dengan Muhammad Rasyid Daeng Sirua sebagai sekretaris, serta anggota J.E. Tatengkeng, Andi Patiwiri, dan Sampara Daeng Lili.
Fakultas Kedokteran Makassar akhirnya diresmikan pada 28 Januari 1956 oleh Menteri P dan K Prof R Soewandi, dan kemudian menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin seiring dengan peresmian universitas.
Puncak dari seluruh rangkaian perjuangan tersebut terjadi pada 10 September 1956, ketika Unhas resmi didirikan sebagai perguruan tinggi negeri.
Dengan berdirinya Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Kedokteran sebagai fakultas awal, Unhas menjadi simbol kebangkitan pendidikan tinggi di kawasan Indonesia Timur.
Sejak peresmiannya, Unhas terus berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia, serta menjadi pusat keunggulan akademik yang berkontribusi bagi pembangunan nasional dan kawasan timur Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-15-Headline-Tribun-Timur-Kamis-1512026.jpg)