Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Jalan Trans Sulawesi Ditutup Demonstran, Sopir Truk Beralih ke Pelabuhan Bajoe Bone

Situasi padat membuat sejumlah sopir memilih turun dari kabin untuk berkoordinasi dan memantau antrean

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Wahdaniar
PELABUHAN BAJOE- Potret antrian kendaraan di Pelabuhan Penyebrangan Bajoe Kecamatan Tanete Riattang Timur (18/2/2026). Penutupan jalur darat ganggu distribusi, sopir truk serbu Pelabuhan Bajoe Bone. 
Ringkasan Berita:
  • Sejumlah sopir truk beralih ke  jalur penyeberangan laut di Kabupaten Bone
  • Keputusan itu diambil setelah penutupan jalur darat Trans Sulawesi di wilayah Luwu Raya
  • Pantauan di lapangan menunjukkan deretan kendaraan berat mengisi penuh lajur jalan menuju pelabuhan

 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Penutupan jalur darat Trans Sulawesi di wilayah Luwu Raya memicu lonjakan signifikan arus kendaraan menuju jalur penyeberangan laut di Sulawesi Selatan.

Dampaknya terlihat jelas di Pelabuhan Penyebaran Bajoe Kecamatan Tanete Riattang Timur, di mana antrean truk mengular hingga menembus gerbang masuk pelabuhan, Rabu (18/2/2026).

Pantauan di lapangan menunjukkan deretan kendaraan berat mengisi penuh lajur jalan menuju pelabuhan.

Situasi padat membuat sejumlah sopir memilih turun dari kabin untuk berkoordinasi dan memantau kemungkinan pergerakan antrean.

Sopir truk asal Pinrang, Bere (51) menjadi salah satu pengemudi yang terdampak penutupan jalur darat tersebut. 

Ia dalam perjalanan membawa material tiang beton menuju Luwu, namun harus mengalihkan rute setelah mendapat informasi jalan utama di Luwu Raya tidak dapat dilewati.

Keputusan Bere untuk beralih ke jalur laut dengan menyeberang melalui Bajoe menuju Kolaka menjadi pilihan terakhir agar distribusi material tetap berjalan. 

Namun suasana di pelabuhan yang sangat padat membuatnya harus menunggu jauh lebih lama dari perkiraan.

“Iya sekitar lima jam saya mengantre, ini belum bergerak dari tadi,” tuturnya.

Bere mengatakan telah memulai perjalanan sejak dini hari dengan harapan dapat tiba lebih cepat di lokasi tujuan.

 Namun kondisi di pelabuhan membuat waktu perjalanannya mundur jauh.

“Sudah berangkat cepat supaya tidak terhambat, tapi di sini malah terhenti total. Mudah-mudahan segera ada penanganan,” ujarnya.

Sopir lain, Rahman (44), juga menyampaikan keluhan serupa.

 Menurutnya, gelombang kendaraan dari arah utara Sulawesi Selatan yang memilih jalur pelabuhan membuat antrean kali ini menjadi yang terpanjang dalam beberapa bulan terakhir.

“Biasanya antre tapi tetap maju sedikit-sedikit. Ini sejak datang tidak bergerak. Kami cuma bisa menunggu info,” katanya.

Rahman mengungkapkan sebagian sopir terpaksa mematikan mesin untuk menghemat bahan bakar, sementara yang lain terlihat duduk di pinggir jalan sambil menanti perkembangan terbaru dari petugas pelabuhan.

“Kalau begini, rugi waktu dan rugi biaya operasional. Tapi tidak ada pilihan lain,” tambahnya.

Dirinya mengaku, lonjakan kendaraan yang terpusat di Pelabuhan Penyebrangan Bajoe diperkirakan akibat banyaknya pengendara logistik yang menghindari jalur darat Luwu Raya dan memilih menyeberang lebih jauh. 

Kondisi ini membuat kapasitas pelabuhan dan jadwal kapal kewalahan menampung arus yang datang secara bersamaan.

Para sopir berharap pihak terkait segera memberikan solusi dan kepastian mengenai kondisi jalur darat maupun operasional penyeberangan, agar distribusi barang tidak tertunda terlalu lama.

“Kami cuma ingin jalur kembali normal. Banyak sopir dan masyarakat yang terkena dampaknya,” tandasnya. 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved