Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga Sembako

Harga Sembako di Bone Melonjak, Cabai dan Bawang Tembus Rp50 Ribu per Kilo

Cabai merah keriting mengalami kenaikan dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram, dan tomat dari Rp18 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Wahdaniar
BAHAN POKOK - Dagangan pedagang di Pasar Eks Sentral Lama, Kelurahan Macege, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Senin (27/4/2026). Harga sembako di Bone melonjak, cabai dan bawang tembus Rp50 ribu per kilo.  

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Harga sejumlah bahan pokok di Pasar Eks Sentral Lama, Kelurahan Macege, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Sejumlah komoditas utama seperti cabai dan bawang kini menembus harga Rp50 ribu per kilogram.

Bawang merah dan bawang putih yang sebelumnya dijual Rp40 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp50 ribu per kilogram.

Kenaikan serupa juga terjadi pada cabai rawit dan cabai merah besar, yang melonjak dari Rp35 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram. 

Selain itu, kacang hijau dan kacang tanah ikut naik dari Rp40 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram.

Sementara itu, cabai merah keriting mengalami kenaikan dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram, dan tomat dari Rp18 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram.

Adapun bawang bombay masih bertahan di harga Rp40 ribu per kilogram.

Baca juga: Harga Plastik di Maros Merangkak Naik, Gelas Plastik Isi 50 Dijual Rp15 Ribu

Salah satu pedagang, Mare (45), mengatakan kenaikan harga tersebut sudah terjadi sejak Lebaran Idulfitri dan hingga kini belum mengalami penurunan.

“Kenaikan ini sudah sejak Lebaran, belum pernah turun sampai sekarang,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Ia memperkirakan harga bahan pokok masih berpotensi mengalami kenaikan, terutama menjelang Hari Raya Idul Adha.

“Bisa saja naik lagi, karena harga BBM non subsidi juga naik, ditambah sudah dekat Idul Adha,” tambahnya.

Menurut Mare, sebagian besar pasokan bahan pokok di pasar tersebut berasal dari daerah Enrekang dan Gowa, sehingga biaya distribusi turut memengaruhi harga jual di pasaran.

“Kebanyakan barang di sini dari Enrekang dan Gowa, jadi biaya angkutnya tinggi, apalagi BBM naik,” jelasnya.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga, Darma (30), mengaku kenaikan harga sangat berdampak pada kebutuhan sehari-hari.

“Dulu bawa uang Rp200 ribu sudah cukup, sekarang Rp500 ribu pun belum cukup untuk belanja,” keluhnya.

Ia berharap harga bahan pokok dapat segera turun agar tidak semakin memberatkan masyarakat, terutama menjelang hari besar keagamaan.(*)

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved