Opini
Menua dengan Positif, Sehat dan Bahagia
Indonesia memang termasuk negara yang telah membuat kemajuan besar dalam meningkatkan usia harapan hidup selama beberapa dasawarsa terakhir.
Oleh: Sudirman Nasir
Dosen/peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin
TRIBUN-TIMUR.COM - Setelah lebih 70 tahun Indonesia merdeka, jika kita harus menyebutkan beberapa contoh kemajuan yang telah kita capai maka salah satunya jelas adalah peningkatan usia harapan hidup (life expectancy).
Indonesia memang termasuk negara yang telah membuat kemajuan besar dalam meningkatkan usia harapan hidup selama beberapa dasawarsa terakhir.
Rata-rata usia harapan hidup di Indonesia pada tahun 2024 adalah 72,39 tahun, atau sekitar 72 tahun 4 bulan 20 hari.
Ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya yang sebesar 72,13 tahun. Hal ini patut kita renungkan dalam rangka peringatan Hari Lansia Nasional yang diperingati setiap 29 Mei.
Indonesia sebenarnya mulai memasuki fase penuaan penduduk (aging population) sejak 2021.
Suatu negara telah masuk pada fase penuaan penduduk jika penduduk usia lanjutnya (lansia) melebihi 10 persen dari total penduduk.
Berdasarkan data BPS (2023), persentase penduduk lansia (usia 60 tahun ke atas) di Indonesia sebesar 11,75 persen atau sekitar 32 juta orang pada 2023 (1 dari 8 warga adalah lansia).
Angka tersebut naik 1,27 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 10,48 persen.
Melihat data tersebut, pada 2050 diprediksi jumlah lansia akan mencapai 20 persen hingga 25?ri total penduduk Indonesia (1 dari 5 warga adalah lansia)
Dua sisi penuaan
Penuaan penduduk dan peningkat usia harapan hidup memiliki dua sisi. Di satu pihak, jumlah warga lansia yang meningkat sebenarnya merupakan capaian dan bagiani bonus demografi.
Aneka manfaat itu bisa didapatkan apabila sebagian besar lansia tetap sehat dan produktif sehingga dapat memiliki kualitas hidup baik dan memberikan sumbangan bagi perekonomian dan pembangunan negara.
Namun di lain sisi, peningkatan jumlah lansia (penuaan penduduk) menjadi tantangan berat jika lansia banyak yang tidak sehat dan tidak produktif.
Tentu kita mafhum bhwa seiring usia maka gangguan kesehatan misalnya meningkat.
Lebih dari separuh penduduk lansia memang mengalami aneka penyakit menular dan tidak menular ataupun penyakit kronis (aging-related diseases), termasuk gangguan kesehatan jiwa (aging-related diseases).
Tentu kondisinya lebih buruk pada terutama pada lansia dengan kondisi ekonomi yang lebih lemah.
Hasil Survei Longitudinal Aging Indonesia (SLAI) pada 2023 misalnya menunjukkan hampir 70 persen lansia telah terdiagnosis mengidap penyakit tidak menular.
Penyakit paling banyak yang terdiagnosis yakni saluran cerna (34,8 persen), tekanan darah tinggi atau hipertensi (27,1 persen), kolesterol tinggi (16 persen), gangguan sendi (15,5 persen), dan vertigo (9,6 persen). Harus dicatat pula, 6,6 persen warga lansia terdiagnosis mengalami aneka gejala depresi.
Banyaknya warga lansia yang mengalami permasalahan kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental, membuat kebutuhan akan layanan perawatan jangka panjang semakin besar.
Sedikitnya, 11,6 persen lansia atau sekitar 3,1 juta warga lansia membutuhkan layanan perawatan jangka panjang.
Namun banyak di antara mereka yang belum memiliki akses pada tenaga/fasilitas perawatan (caregiver). Sebagian besar perawatan lansia kita dilakukan oleh keluarga dan banyak belum memiliki kualifikasi atau kemampuan sebagai pemberi perawatan bagi lansia.
Karena itu, layanan perawatan jangka panjang bagi warga lansia yang terstandar, terintegrasi, dan berkualitas semakin dibutuhkan saat ini dan di waktu yang akan datang.
Sejumlah inisiatif pemerintah maupun menyarakat mengembangkan program penguatan layanan perawatan jangka panjang bagi lansia.
Di beberaapa daerah ada pengembangan Layanan Lansia Terintegrasi (LLT).
Layanan ini diarahkan erbasis komunitas dan terintegrasi dengan potensi di masyarakat.
Pelayanan jangka panjang terpadu bagi lansia memang membutuhkan peran berbagai pihak. Pelayanan ini tidak hanya melibatkan sektor medis dan kesehatan, tetapi juga sektor sosial, budaya, hingga ekonomi.
Positive ageing
Inti dari perawatan/dukungan lansia terpadu di atas adalah penguatan program supaya lansia bisa menua dengan positif, sehat dan bahagia (penuaan positif).
Penuaan tak bisa dinidarkan namun buykan sesuatu yang negatif. Penuaan bisa dikelola dengan pengetahuan, empati dan sistem sosial dan kesehatan yang baik.
Prinsip dan keterpaduan ini penting karena perawatan/dukunganbagi lansia umumnya memang membutuhkan waktu yang panjang.
Gangguan kesehatan yang mereka alami biasanya butuh waktu yang lama untuk sembuh, bahkan mungkin tidak bisa pulih sepenuhnya.
Apabila harus dirawat di rumah sakit misalmnya, biaya yang dibutuhkan bisa besar. Selain itu, warga lansia dapat mengalami beban karena harus berulang atau bolak-balik dari rumah ke rumah sakit.
Karena itu, perawatan jangka panjang yang dapat diberikan di rumah ataupun di komunitas di mana mereka tinggal adalah yang paling mungkin bagi lansia kita.
Perawatan jangka panjang ini membutuhkan peran yang terpadu dari lansia sendiri, anggota keluarga, petugas kesehatan di Puskesmas, Rumah Sakit, Posbindu serta masyarakat sekitar.
Dengan layanan lansia terpadu dan penerapan konsisten prinsip penuaan positif, kita mendukung lansia mampu tetap melanjutkan hidup dengan cukup sehat, bahagia dan produktif.
Lansia pun bisa hidup berkualitas, memiliki otonomi tinggi dan harga diri (dignity). Terlebih bila selain ketersediaan layanan kesehatan dan sosial seperti dijabarkan di atas, juga ada fasilitas/infrastruktur memadai yang menndukung/ramah lansia, misalnya fasilitas terkait mobilitas, transportasi dan sebagainya sebagai bagian dari kota ramah lansia (elderly friendly city) atau desa ramah lansia (elderly friendly village).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Sudirman-Nasir-65.jpg)