Opini
Makassar Merindukan Galeri Seni
Di tengah kepungan bangunan modern dan kemacetan kota, identitas dan orisinalitas icon Makassar sebagai kota yang menyejarah menjadi terkubur.
Tayang:
Editor:
Sudirman
Rona budaya saat ini menunjukkan tanda-tanda kelelahan, keretakan, dan sebagian mengalami keruntuhan yang membuka jalan bagi pergeseran budaya.
Oleh karena itu, Seni lukis tidak berbicara keteraturan, tidak juga menonjolkan kerumitan hidup, tapi lebih menampilkan harmoni dan keserasian.
Tantangan pergeseran budaya mau tidak mau kita harus bersatu menyelaraskan kepentingan dalam penyatuan yang penuh harmoni.
Harapan dari diskusi nanti, perupa Makassar punya kesimpulan tentang tujuan seni dan kreasi menciptakan realitas budaya terbaharukan minimal untuk Kota Makassar.
Hadirnya galeri seni menjadi sesuatu yang dirindukan.
Berita Terkait: #Opini
| Program Makan Bergizi Gratis: Pentingnya Pendataan Penerima untuk Efektivitas Program |
|
|---|
| Matinya Gerakan Sosial di Era Digital: Aksi BEM dan Krisis Representasi Massa |
|
|---|
| Menyelami Makna Muharram Tahun Baru Hijrah |
|
|---|
| Legalitas Nobar Piala Dunia: Menyeimbangkan Hak Informasi dan Perlindungan Hak Siar |
|
|---|
| Politik Keseharian, Heidegger, dan Mahasiswa Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Wahyuddin-Yunus-Penikmat-SeniPenggiat-Diskusi-Jurnal-Warung-Kopi.jpg)