Opini
Makassar Merindukan Galeri Seni
Di tengah kepungan bangunan modern dan kemacetan kota, identitas dan orisinalitas icon Makassar sebagai kota yang menyejarah menjadi terkubur.
Oleh: Wahyuddin Yunus
Penikmat Seni/Penggiat Diskusi Jurnal Warung Kopi
TRIBUN-TIMUR.COM - Salah satu prasyarat kota dunia, tersedianya infrastruktur kebudayaan. Galeri seni dipandang menjadi salah satu ornamen dan penanda kebudayaan.
Makassar sebagai kota yang sarat kemajuan, keberadaan Seni rupa Makassar seakan menjadi pembeda.
Di tengah kepungan bangunan modern dan kemacetan kota, identitas dan orisinalitas icon Makassar sebagai kota yang menyejarah menjadi terkubur.
Ruang untuk berkreasi dan berkarya dari para seniman semakin sempit.
Terlepas dari kegelisahan itu, para perupa Makassar yang tergabung dalam kelompok Makassar Art Initiative Movement (MAIM) tetap produktif dalam berkarya.
Ini ditandai adanya gelaran pameran selama sebulan periode Mei 2025 di Warkop Enreco yang terletak di jantung kota Makassar.
Ujung pameran yang bertajuk 'Kurru Sumanga' akan akan tersaji Diskusi Seni sebagai 'Refleksi terhadap Pameran Lukisan Kurru Sumanga.
Sabtu, 31 Mei 2025 menjadi momentum berkhidmat pada seni rupa Makassar dalam tema : 'Semiotika Sosial dalam Lukisan.
Paling tidak diskusi kali ini bisa mengkonfirmasi, mengapa terma seni rupa dalam diskusi, seminar, hingga ruang-ruang pendidikan, kurang banyak dibicarakan.
Apakah karena cakupan dan wilayah jelajahnya melampaui batas ruang dalam berimajinasi.
Di tengah keterbatasan ruang, para perupa Makassar berhimpun di MAIM tetap berkarya secara konsisten.
Hasil kreatifitas secara tekun telah melahirkan berbagai lukisan. Ditandai dengan berbagai pameran telah diadakan.
Baik dalam tajuk pameran tunggal maupun secara bersama-sama.
Di sisi lain seni rupa ingin dipahamkan tidak hanya sebagai karya seni tercipta secara visual.
Seni rupa adalah wujud ekspresi manusia dalam hal ini perupa. Lahir atas imajinasi intelektual dipadu dengan intuisi membuahkan hasil karya dalam bentuk lukisan.
Di titik ini, muncul pertanyaan kritis. Pertama, mengapa para perupa mau berkorban tenaga, waktu, bahkan biaya ?
Lalu, kedua, untuk siapa, mereka tetap berproses mencipta hingga tetap berkarya.
Haruskah perupa hadir demi menapaki jalan kesunyian ? Atau sekadar lewat dan menyapa, kalau mereka sedemikian larut dalam dekapan 'seni untuk seni'.
Ketiga, ketika diperhadapkan pada rendahnya perhatian pada karya seni. Ditambah lagi, sepinya apresiasi diberikan, menjadi jurang pemisah dan lubang cukup mengangah atas nama kepekaan seni.
Barisan daftar akan demikian panjang ketika disandarkan pada masalah.
Gairah perupa mungkin saja tertarik dalam ranah politik, tetapi kesejatian seni membuat batas-batas tujuan rasional.
Alam perupa dihinggapi arus bawah sadar, mengisi bejana sampai penuh dengan makna yang melampaui pemaknaan mereka sendiri.
Sebegitu kuatnya karya seni rupa melintasi alam pikiran manusia yang tak mampu ia tolak.
Namun dalam praktek berkesenian, apakah seni rupa dalam wujud lukisan dapat menggugah kesadaran, termasuk mengartikulasikan perubahan sosial ?
Paling tidak secara spekulatif seni muncul dari sematan naluri alkimia, ingatan, emosi, dan intuisi manusia yang unik.
Maka, mungkin saja karya seni tidak punya pengaruh sosial secara langsung.
Paling tidak seni mampu menyalurkan kekuatan primordial yang modernitas dan zaman kuno/purba.
Dunia dipenuhi ketidakpastian. Peradaban manusia seolah menapaki jalan ujian kesadaran.
Rona budaya saat ini menunjukkan tanda-tanda kelelahan, keretakan, dan sebagian mengalami keruntuhan yang membuka jalan bagi pergeseran budaya.
Oleh karena itu, Seni lukis tidak berbicara keteraturan, tidak juga menonjolkan kerumitan hidup, tapi lebih menampilkan harmoni dan keserasian.
Tantangan pergeseran budaya mau tidak mau kita harus bersatu menyelaraskan kepentingan dalam penyatuan yang penuh harmoni.
Harapan dari diskusi nanti, perupa Makassar punya kesimpulan tentang tujuan seni dan kreasi menciptakan realitas budaya terbaharukan minimal untuk Kota Makassar.
Hadirnya galeri seni menjadi sesuatu yang dirindukan.
| Program Makan Bergizi Gratis: Pentingnya Pendataan Penerima untuk Efektivitas Program |
|
|---|
| Matinya Gerakan Sosial di Era Digital: Aksi BEM dan Krisis Representasi Massa |
|
|---|
| Menyelami Makna Muharram Tahun Baru Hijrah |
|
|---|
| Legalitas Nobar Piala Dunia: Menyeimbangkan Hak Informasi dan Perlindungan Hak Siar |
|
|---|
| Politik Keseharian, Heidegger, dan Mahasiswa Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Wahyuddin-Yunus-Penikmat-SeniPenggiat-Diskusi-Jurnal-Warung-Kopi.jpg)