Opini
Makassar Merindukan Galeri Seni
Di tengah kepungan bangunan modern dan kemacetan kota, identitas dan orisinalitas icon Makassar sebagai kota yang menyejarah menjadi terkubur.
Di sisi lain seni rupa ingin dipahamkan tidak hanya sebagai karya seni tercipta secara visual.
Seni rupa adalah wujud ekspresi manusia dalam hal ini perupa. Lahir atas imajinasi intelektual dipadu dengan intuisi membuahkan hasil karya dalam bentuk lukisan.
Di titik ini, muncul pertanyaan kritis. Pertama, mengapa para perupa mau berkorban tenaga, waktu, bahkan biaya ?
Lalu, kedua, untuk siapa, mereka tetap berproses mencipta hingga tetap berkarya.
Haruskah perupa hadir demi menapaki jalan kesunyian ? Atau sekadar lewat dan menyapa, kalau mereka sedemikian larut dalam dekapan 'seni untuk seni'.
Ketiga, ketika diperhadapkan pada rendahnya perhatian pada karya seni. Ditambah lagi, sepinya apresiasi diberikan, menjadi jurang pemisah dan lubang cukup mengangah atas nama kepekaan seni.
Barisan daftar akan demikian panjang ketika disandarkan pada masalah.
Gairah perupa mungkin saja tertarik dalam ranah politik, tetapi kesejatian seni membuat batas-batas tujuan rasional.
Alam perupa dihinggapi arus bawah sadar, mengisi bejana sampai penuh dengan makna yang melampaui pemaknaan mereka sendiri.
Sebegitu kuatnya karya seni rupa melintasi alam pikiran manusia yang tak mampu ia tolak.
Namun dalam praktek berkesenian, apakah seni rupa dalam wujud lukisan dapat menggugah kesadaran, termasuk mengartikulasikan perubahan sosial ?
Paling tidak secara spekulatif seni muncul dari sematan naluri alkimia, ingatan, emosi, dan intuisi manusia yang unik.
Maka, mungkin saja karya seni tidak punya pengaruh sosial secara langsung.
Paling tidak seni mampu menyalurkan kekuatan primordial yang modernitas dan zaman kuno/purba.
Dunia dipenuhi ketidakpastian. Peradaban manusia seolah menapaki jalan ujian kesadaran.
| Program Makan Bergizi Gratis: Pentingnya Pendataan Penerima untuk Efektivitas Program |
|
|---|
| Matinya Gerakan Sosial di Era Digital: Aksi BEM dan Krisis Representasi Massa |
|
|---|
| Menyelami Makna Muharram Tahun Baru Hijrah |
|
|---|
| Legalitas Nobar Piala Dunia: Menyeimbangkan Hak Informasi dan Perlindungan Hak Siar |
|
|---|
| Politik Keseharian, Heidegger, dan Mahasiswa Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Wahyuddin-Yunus-Penikmat-SeniPenggiat-Diskusi-Jurnal-Warung-Kopi.jpg)