Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Anshar Aminullah

Isbat Kemenag dan Aroma Ketupat An-Nadzir: Sami'na Wa Atho'na

Saya masih ingat, di awal ramadhan tahun ini, saat saya singgah di salah satu masjid dalam perjalanan hendak pulang kampung di sahur pertama.

Editor: Saldy Irawan
tribun-timur
Anshar Aminullah 

Bisa jadi selain sebagai salah satu kesadaran keagamaan yang lahir dari keinsyafan keilahian, ini juga telah menjadi semacam 'ritual' sosial yang telah mentransformasi pengalaman komunitas religinya dalam suatu kasus tipikal, menjadi suatu episode saling menghargai dalam sejarah sosial kemasyarakatan kita kelak. 

Eksistensi dan konsistensi An-Nadzir justru lebih menegaskan posisi mereka sebagai pekerja sejarah kebesaran Islam yang nyata.

Mereka adalah pengembara non struktural diluar dari struktur kementerian agama.

Mereka menjadi pelaku-pelaku mekanisme kenyataan yang juga tetap mengerti bagaimana untuk tetap produktif dunia-akhirat, sehingga tetap mempunyai pemikiran strategis dan mendasar, saat mengkonversikan terjemahan keIslamannya dalam aktualisasi realistik. 

Kemenangan Universal

Lebaran 30 ataupun 31 Maret seyogyanya tidak menjadi pemisah dalam hubungan sosial kita.

Bulan puasa ini haruslah berhasil mendidik kita, bahwa salah satu nilai utamanya adalah menjadikannya sebagai prinsip dasar dalam menjalani hidup.

Mulai dari menahan diri, mengendalikan, menyaring segala macam yang bisa merusak tatanan sosial-keagamaan di negeri ini.

Tak perlu ada perdebatan panjang soal beda hari lebaran.

Bahkan kita mungkin justru harus berterima kasih kepada Jamaah An-Nadzir, sebab telah menjaga keseimbangan kosmologis dan keselamatan hidup alam semesta melalui konsistensi mereka dalam memuja dan memuji Allah Swt melalui ibadahnya. 

Selama ini mungkin kita tak mampu menahan diri dari mengkonsumsi setiap makanan enak secara berlebih.

Usus kita perlu bermeditasi, urat syaraf kita perlu bersabar, perut kita perlu taat akan anjuran agama.

Pikiran kita pun perlu pengendalian diri, sebab ini akan menarik harkat hidup manusia menuju nilai-nilai hidup sejati yang di ridhai oleh Allah Swt. 

Mari kita tingkatkan kepekaan sosial kita, sebab dengan sensibilitas ini akan mendorong menaiknya level Idul Fitri kita.

Selebihnya, biarkan aroma ketupat dan buras yang menyatukan 'uforia' kemenangan universal kita di 1 Syawal ini. 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved