Opini Anshar Aminullah
Ketika Sulsel, Luwu Raya, dan Seni Mencintai Tanpa Harus Memiliki
Ada wilayah yang tidak sedang meminta dihitung, melainkan berharap didengarkan.
Anshar Aminullah
(Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi Universitas Indonesia)
TRIBUN-TIMUR.COM - "Bila aku harus mencintai dan berbagi hati, itu hanya denganmu. Namun, bila ku harus tanpamu, akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta".
Jika Anda menghafal lirik ini dengan baik, dan ingat betul bagaimana lagu tersebut kerap diputar di pete-pete merah atau biru yang mondar-mandir antara Pasar Sentral, Panakkukang, hingga Terminal Sungguminasa, maka hampir pasti Anda berasal dari generasi yang memahami betul bagaimana relasi intim antara pulpen dan kaset pita.
Lagu ini bukan sekadar soal nostalgia.
Selain karena Lucky Widja sang vokalis Element yang beberapa hari lalu berpulang dan meninggalkan jejak emosional bagi pendengarnya, lirik lagu ini juga menyimpan makna yang lebih dalam tentang cinta yang dewasa dan cinta yang tidak memaksa untuk selalu memiliki.
Ia mengingatkan kita pada aksi ribuan masyarakat dari berbagai elemen yang mendeklarasikan sesuatu yang bukan lagi "Rahasia Hati", sebuah ungkapan "Cinta Tanpa Syarat".
Keinginan untuk membentuk provinsi terpisah dari Sulawesi Selatan bukanlah penolakan, melainkan pernyataan "Cinta Sejati", cinta yang ingin diakui dalam wujud baru bernama Provinsi Luwu Raya.
Dari lirik lagu di atas dan pada ingatan kolektif itu, kita belajar bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bahasa angka dan nominal.
Ada wilayah yang tidak sedang meminta dihitung, melainkan berharap didengarkan.
Dan di posisi inilah diskusi serius tentang pemekaran sering kali kehilangan kepekaannya, bahkan bisa jadi hanya sebatas obrolan sepintas lalu di warung kopi, terlebih jika yang membahas adalah orang-orang yang paling sering sengaja terlambat berdiri menuju kasir.
Pemekaran seringkali dibahas dengan menggunakan data dari PAD, serta jarak berdasarkan luas wilayah, maupun layanan publiknya, Namun amat jarang dibahas dengan bahasa perasaan sosial.
Pemerintah kadang pandai menghitung kilometer, namun sering gagap membaca jarak emosional khalayak.
Itu berdasarkan konsep yang idealnya.
Namun pada akhirnya, kebanyakan hasil akhir semuanya masih sangat dipengaruhi oleh bagaimana komunikasi lebih lanjut dari deklarator ke elite pemegang palu keputusan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/opini-anshar-anminullah.jpg)