Nasaruddin Umar
Merawat Kemabruran Puasa 25: Dari Syari’ah ke Hakikat
Pernyataan ini mengisyaratkan betapa pentingnya penyerasian antara syari’ah dan hakikat.
Al-Qusyairi mencontohkan: Iyyaka na’budu adalah manifestasi syari’ah, sedangkan iyyaka nasta’in adalah manifestasi hakikat.
Sesungguhnya seseorang tidak mesti harus bertarekat. Tidak mesti juga seseorang memiliki syekh atau mursyid dalam arti pemimpin tarekat.
Seseoarang bisa mendapatkan bimbingan dari ulama atau ustas yang mendasarkan ajarannya pada Alquran dan hadis.
Hanya saja bimbingan mereka sering dianggap bersifat generik dan uumum.
Bimbingan khusus secara intensif banyak dirasakan orang melalui tarekat, yang di dalamnya ada tatakrama tertentu yang
mesti diamalkan.
Namun kita juga harus hati-hati karena banyak aliran tertentu yang cenderung dipertanyakan keabsahan dan kemuktabarahannya menggunakan istilah tarekat.
Jika ingin bertarekat, kita dianjurkan untuk memilih tarekat yang betul-betul ajarannya bersumber dari Al-Qur’an dan hadis.
Tarekat seperti ini biasa disebut dengan tarekat mu’tabarah, suatu tarekat yang tidak diragukan ajarannya.
Tareka yang tidak populer (gair mu’tabarah) belum tentu salah atau sesat.
Namun kita harus hati-hati. Kita harus melihat secara kritis dan memastikan substansi ajarannya tidak bertentangan dengan ajaran Alquran dan Hadis.
| Menag Nasaruddin Umar: As’adiyah Macanang Tumbuh Pesat Sejak Sebelum Saya Menjabat |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 29: Dari Salam, Islam, dan ke Istislam |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 28: Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 27: Dari Wirid ke Warid |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 26: Dari Ta’abbud ke Isti’anah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PUASA-RAMADAN-Menteri-Agama-RI-Nasaruddin-Umar.jpg)