Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Nasaruddin Umar

Merawat Kemabruran Puasa 26: Dari Ta’abbud ke Isti’anah

Ayat kelima dari surah Al-Fatihah ini menyimpan rahasia besar, tetapi masih banyak di antara kita yang belum menghayati maknanya.

Editor: Sudirman
Tribunnews.com
PUASA RAMADAN - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar melakukan sesi wawancara khusus di Studio Tribun Network, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2025). Hari ini menteri bicara soal awal puasa Ramadan 2025. 

Oleh: Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

Menteri Agama

TRIBUN-TIMUR.COM - Setiap hari kita mebaca: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya Engkau yang kami memohon pertolongan).

Ayat kelima dari surah Al-Fatihah ini menyimpan rahasia besar, tetapi masih banyak di antara kita yang belum menghayati maknanya.

Jika makna ta’abbud dan isti’anah bisa dihayati maka akan sangat membantu kita untuk mengenal siapa sesungguhnya diri kita dan siapa Allah SWT, dan inilah sesungguhnya inti
ma’rifah.

Siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya, dan siapa yang mengenal Tuhannya maka dengan sendirinya akan mengenal dirinya yang sesungguhnya.

Ta’abbud merupakan bentuk pendakian seorang hamba menuju Tuhannya dalam bentuk pengabdian atau penghambaan diri. Dalam hadis Nabi shalat adalah bentuk pendakian atau mikraj orang-orang mukmin (al-shalatu mi’raj al-mu’minin).

Setelah hamba merasa tiba di puncak pendakian maka saat itulah Allah SWT memberikan apresiasi usaha keras atau mujahadah anak manusia ke dalam bentuk pertolongan Tuhan.

Bentuk isti’anah bermacam-macam. Yang pasti itu merupakan keutamaan yang diberikan Allah Swt.

Ta’abbud biasa disinonimkan dengan pendakian (taraqqi) dan isti’anah dihubungkan dengan tanazul, yaitu anugrah Allah SWT yang diturunkan kepada hamba.

Ibnu ‘Arabi lebih suka menggunakan istilah taraqqi untuk upaya pendakian menuju Tuhan dan istilah tanazul untuk isti’anah.

Taraqqi bagi Ibnu ‘Arabi melejitnya seorang hamba menuju Tuahn-Nya.

Setelah sampai kedalam batas tertentu maka muncullah peristiwa tanazul, yaitu turunnya karunia Tuhan sebagai akibat pengabdian tulus seorang hamba kepada Tuhannya.

Isti’anah ialah anugrah yang diturunkan Tuhan sebagai balasan dari berbagai bentuk pengabdian kepada-Nya.

Penempatan isti’anah setelah ta’abbud mengisyaratkan bahwa tidak ada isti’anah tanpa diawali ta’abbud.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Ayo, ke Timur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved