Nasaruddin Umar
Merawat Kemabruran Puasa 29: Dari Salam, Islam, dan ke Istislam
Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, rigit, dan sempurna (perfect).
Oleh: Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA
Menteri Agama
TRIBUN-TIMUR.COM - Huruf sin, lam, mim (salima) sebuah akar kata yang membentuk kata salam (damai), Islam (kekedamaian), Istislam (pembawa kedamaian), dan Taslim (ketundukan, kepasrahan, dan ketenangan).
Salam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian lebih umum.
Islam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki seperangkat konsepsi nilai dan norma (value).
Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, rigit, dan sempurna (perfect).
Allah SWT memberi nama agamanya yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dengan agama Islam.
Bukan agama salam (kepasrahan tanpa konsep).
Bukan juga agama istislam yang lebih mengutamakan kecepatan, ketegasan, dan kesempurnaan dalam memperjuangkan kedamaian dan kepasrahan).
Kata Islam itu sendiri mengisyaratkan jalan tengah atau moderat (tawassuth).
Al-Quran disebutkan: Inna al-dina;inda Allah al-islam (Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam/Q.S. Ali Imran/3:19), man yabtagi gair al-islam dinan falan yuqbala minhu (Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya/Q.S. Ali Imran/3:19).
Perhatikan ayat-ayat tersebut di atas semuanya menggunakan kata al-islam, dengan menggunakan alif marifah (al), bukan Islam dalam bentuk nakirah, bukan juga salam atau istislam.
Ini semua menunjukkan bahwa dari segi bahasa saja al-islam (Islam) sudah mengisyaratkan jalan tengah, moderat, dan sudah barang tentu menolak kekerasan dan keonaran.
Seharusnya seorang muslim (orang yang beragama Islam) itu mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan dan pada akhirnya merasakan ketenangan lahir batin.
Agaknya kontradiktif jika panji-panji Islam dibawa-bawa untuk sesuatu menyebabkan lahirnya kekacauan dan ketidaknyamanan.
Apalagi jika atas nama Islam digunakan untuk melayangkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa, sangat tidak sepadan dengan kata Islam itu sendiri.
| Menag Nasaruddin Umar: As’adiyah Macanang Tumbuh Pesat Sejak Sebelum Saya Menjabat |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 28: Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 27: Dari Wirid ke Warid |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 26: Dari Ta’abbud ke Isti’anah |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 25: Dari Syari’ah ke Hakikat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PUASA-RAMADAN-Menteri-Agama-RI-Nasaruddin-Umar.jpg)