Opini Mattewakkan
Ketika Stadion Dibangun di Untia
Sebuah stadion baru akan berdiri di Untia, kawasan pesisir yang perlahan tapi pasti mulai ditarik ke dalam orbit Makassar.
Yang dibutuhkan Untia bukan sekadar stadion, melainkan keberanian pemerintah untuk melakukan satu hal penting yang jarang terjadi: mendengar.
Melibatkan warga sejak rencana itu masih berupa sketsa. Membuka ruang dialog yang sungguh-sungguh, bukan sekadar formalitas di hotel-hotel berbintang yang berakhir jadi berita satu hari.
Kajian lingkungan hidup harus dilakukan dengan serius, bukan hanya untuk menggugurkan syarat administratif.
Tapi benar-benar untuk memastikan bahwa yang dibangun tidak lebih besar dari yang dikorbankan.
Kewajiban ini termasuk transparansi soal anggaran, kepemilikan lahan, dan siapa yang akan diuntungkan. Semua itu adalah keharusan, bukan kemewahan.
Lebih jauh, dibutuhkan kolaborasi lintas batas: pemerintah, akademisi, aktivis lingkungan, pengusaha, dan masyarakat sipil duduk bersama. Bukan untuk saling mengalahkan, tapi mencari titik temu.
Di situlah, mungkin, mimpi tentang stadion yang adil dan berkelanjutan bisa benar-benar lahir.
Pemerintah Kota Makassar harus belajar dari banyak kasus serupa di berbagai daerah.
Mandalika di NTB, misalnya, meski menyisakan persoalan, setidaknya mulai membuka ruang untuk pelibatan masyarakat adat dan kajian lingkungan yang lebih komprehensif.
Jika tidak, bukan tidak mungkin Untia akan menyusul jejak proyek-proyek raksasa lain yang hari ini lebih banyak meninggalkan luka ketimbang kebanggaan.
Warisan yang Kita Pilih
Kita punya cukup banyak cerita sebagai pelajaran. Dari Stadion Gelora Bung Karno yang dibangun dengan penggusuran paksa, hingga proyek-proyek modern lain yang sering kali mengabaikan aspek sosial dan ekologis.
Setiap pembangunan besar selalu menyisakan jejak: apakah ia akan dikenang sebagai monumen megah yang menyisakan luka, atau sebagai ruang yang mempertemukan semua orang dalam kebersamaan?
Untia bisa memilih jalannya sendiri. Bukan jalan pintas yang cepat, tapi jalan panjang yang mungkin melelahkan, tapi menjanjikan.
Sebab pada akhirnya, stadion bukan soal beton dan besi, tapi soal ruang hidup manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Mattewakkan-Penulis-adalah-mahasiswa-Program-Doktor-Ilmu-Politik-Unhas.jpg)