Opini Mattewakkan
Ketika Stadion Dibangun di Untia
Sebuah stadion baru akan berdiri di Untia, kawasan pesisir yang perlahan tapi pasti mulai ditarik ke dalam orbit Makassar.
Sementara bagi pengembang, proyek ini adalah tambang emas: membuka kawasan komersial, membangun hotel, pusat belanja, dan mengubah lahan-lahan produktif masyarakat menjadi ruang-ruang konsumsi yang hanya menguntungkan segelintir orang.
Di tengah pusaran itu, masyarakat lokal berdiri di tepian rencana besar ini.
Sebagian dari mereka mungkin membayangkan peluang ekonomi: pekerjaan baru, harga tanah yang melonjak, atau kesempatan untuk ikut menikmati remah-remah dari meja makan pembangunan.
Namun, yang lain mulai menghitung kerugian: lahan tambak yang tergerus, ruang hidup yang hilang, dan laut yang tak lagi ramah.
Ancaman yang Tak Terlihat
Seperti banyak cerita pembangunan di negeri ini, konflik tak selalu datang dalam rupa demonstrasi atau perlawanan terbuka.
Ia sering kali hadir dalam diam—dalam tanah-tanah yang tiba-tiba berpindah tangan, perahu-perahu nelayan yang tak lagi bisa bersandar, atau anak-anak yang kehilangan ruang bermain selain di trotoar jalan raya.
Untia adalah kawasan pesisir yang rapuh. Sekali ekosistemnya terganggu, dampaknya menjalar jauh dan lama.
Tapi di ruang-ruang rapat, semua itu hanya terdengar sebagai angka di layar presentasi, statistik yang mudah dilupakan.
Ekosistem pesisir seperti mangrove, tambak tradisional, dan zona tangkapan nelayan adalah benteng terakhir yang justru rentan dikorbankan atas nama pembangunan.
Padahal, stadion ini bisa menjadi ruang bersama. Tempat di mana anak-anak Untia berlari di lintasan atletik, nelayan tetap pulang membawa ikan, dan warga punya ruang untuk sekadar merayakan hidup.
Lebih dari itu, stadion ini bisa menjadi rumah bagi PSM Makassar—klub yang bukan cuma soal bola, tapi identitas dan kebanggaan kota.
Tempat di mana ribuan orang datang, bukan hanya menonton, tapi merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Namun semua itu hanya mungkin jika sejak awal, suara warga yang tinggal di sana tidak dibungkam oleh deru mesin dan bisik-bisik investasi.
Membangun Dialog, Bukan Hanya Beton
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Mattewakkan-Penulis-adalah-mahasiswa-Program-Doktor-Ilmu-Politik-Unhas.jpg)