Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Nasaruddin Umar

Merawat Kemabruran Puasa 18: dari Tahmid ke Syukur

Kata ini berasal dari akar kata hamdan-yahmadu berarti segala puji hanya tertuju kepada Allah SWT.

Editor: Sudirman
Tribunnews.com
PUASA RAMADAN - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar melakukan sesi wawancara khusus di Studio Tribun Network, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2025). Hari ini menteri bicara soal awal puasa Ramadan 2025. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Tahmid ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dari karunia Allah SWT dengan mengucapkan kata Alhamdulillah.

Kata ini berasal dari akar kata hamdan-yahmadu berarti segala puji hanya tertuju kepada Allah SWT.

Sedangkan syukur lebih dari sekedar bertahmid.

Syukur berasal dari kata syakara-yaskuru berarti bersyukur berterima kasih. 

Sedangkan menurut istilah oleh sebagian ulama dikatakan mengeluarkan hak-hak orang lain dari nikmat Allah yang kita peroleh, misalnya mengeluarkan zakat minimal
2,5 persen sebagai zakat ditambah dengan sadaqah dan berbagai bentuk pemberian lainnya kepada mereka yang berhak.

Menurut para ahli hakekat syukur adalah menyandarkan segala nikmat kepada pemberi nikmat dengan sikap rendah diri.

Atas dasar pengertian inilah Allah SWT mempunyai sifat asy-syakûr, syukur yang sangat luas.

Allah SWT memberikan balasan kepada para hamba-Nya atas kesyukurannya.

Al-Junaid mengatakan, syukur ialah engkau tidak memandang dirimu sebagai pemilik nikmat.

Syâkir adalah orang yang mensykuri atas adanya pemberian, sedang syakûr mensyukuri atas penolakan.

Ada juga yang mengatakan, syâkir adalah orang yang mensyukuri atas nikmat, sedangkan syakûr adalah mensyukuri atas musibah yang menimpanya.

Menurut Al-Syiblî syukur ialah melihat kepada pemberi nikmat dan bukan kepada nikmatnya.

Pernyataan ini diperkuat dengan ucapan nabi Ayyub AS yang bersikap sabar terhadap musibah yang menimpanya, sehingga ia disebut sebagai hamba yang sebaik-baiknya.

Demikian juga nabi Sulaiman AS yang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia disebut juga sebagai hamba yang sebaik-baiknya.

Hal ini disebabkan karena keduanya konsentrasi pada pemberi nikmat dan bukan pada musibah dan nikmat itu, sehingga dengan demikian keduanya tidak merasakan sama sekali
rasa sakit dan nyaman.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved