Nasaruddin Umar
Merawat Kemabruran Puasa 8: Membiasakan Istiqamah
Orang yang tidak memiliki perinsip hidup maka tidak ubahnya perahu tanpa kemudi di tengah samudera.
Oleh: Prof Nasaruddin Umar
Menteri Agama
TRIBUN-TIMUR.COM - Istiqamah adalah karakter hidup yang amat mulia.
Orang yang tidak memiliki perinsip hidup maka tidak ubahnya perahu tanpa kemudi di tengah samudera.
Agama dan budaya setiap masyarakat selalu menekankan arti penting perinsip hidup itu.
Baik atau buruknya seseorang menurut ukuran agama dan budaya amat ditentukan oleh seberapa kuat seseorang itu memegang teguh dan merawat perinsip hidupnya.
Perinsip-perinsip hidup itu sendiri bersifat universal, sehingga seringkali tumpang tindih antara perinsip hidup menurut nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya.
Tidak heran jika pada umumnya orang yang baik dan mengesankan secara agama juga baik dan mengesankan secara budaya, demikian pula sebaliknya.
Di dalam Islam perinsip hidup itu dikenal juga dengan istilah lima perinsip utama (al-dharuriyyat al-khamsah) yang selalu harus dipelihara dan dipertahankan.
Yaitu, jiwa (al-nafs), agama (al-din), akal pikiran (al-‘aql), keturunan (al-nasb), dan harta atau property (al-mal).
Kelima hal ini biasa juga disebut perinsip-perinsip hak asasi manusia di dalam Islam.
Siapapun tidak boleh mengganggu apalagi merampas lima hak asasi manusia tersebut.
Jika seseorang terpaksa membunuh karena alasan mempertahankan salahsatu dari lima hakhak tersebut maka hakim boleh membebaskan yang bersangkutan, sepanjang tidak ada hal lain yang menjadi back-ground di dalam peristiwa tersebut.
Jiwa manusia paling berharga pada diri setiap orang. Orang bekerja secara rutin demi untuk mempertahankan hidup diri dan keluarganya yang hidup di dalam tanggungannya.
Melayangkan jiwa seseorang di dalam Islam sama dengan melayangkan jiwa semua orang, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat, barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
| Menag Nasaruddin Umar: As’adiyah Macanang Tumbuh Pesat Sejak Sebelum Saya Menjabat |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 29: Dari Salam, Islam, dan ke Istislam |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 28: Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 27: Dari Wirid ke Warid |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 26: Dari Ta’abbud ke Isti’anah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PUASA-RAMADAN-Menteri-Agama-RI-Nasaruddin-Umar.jpg)