Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Nasaruddin Umar

Merawat Kemabruran Puasa 8: Membiasakan Istiqamah

Orang yang tidak memiliki perinsip hidup maka tidak ubahnya perahu tanpa kemudi di tengah samudera.

Editor: Sudirman
Tribunnews.com
PUASA RAMADAN - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar melakukan sesi wawancara khusus di Studio Tribun Network, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2025). Hari ini menteri bicara soal awal puasa Ramadan 2025. 

Oleh: Prof Nasaruddin Umar

Menteri Agama

TRIBUN-TIMUR.COM - Istiqamah adalah karakter hidup yang amat mulia.

Orang yang tidak memiliki perinsip hidup maka tidak ubahnya perahu tanpa kemudi di tengah samudera.

Agama dan budaya setiap masyarakat selalu menekankan arti penting perinsip hidup itu.

Baik atau buruknya seseorang menurut ukuran agama dan budaya amat ditentukan oleh seberapa kuat seseorang itu memegang teguh dan merawat perinsip hidupnya.

Perinsip-perinsip hidup itu sendiri bersifat universal, sehingga seringkali tumpang tindih antara perinsip hidup menurut nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya.

Tidak heran jika pada umumnya orang yang baik dan mengesankan secara agama juga baik dan mengesankan secara budaya, demikian pula sebaliknya.

Di dalam Islam perinsip hidup itu dikenal juga dengan istilah lima perinsip utama (al-dharuriyyat al-khamsah) yang selalu harus dipelihara dan dipertahankan.

Yaitu, jiwa (al-nafs), agama (al-din), akal pikiran (al-‘aql), keturunan (al-nasb), dan harta atau property (al-mal).

Kelima hal ini biasa juga disebut perinsip-perinsip hak asasi manusia di dalam Islam.

Siapapun tidak boleh mengganggu apalagi merampas lima hak asasi manusia tersebut.

Jika seseorang terpaksa membunuh karena alasan mempertahankan salahsatu dari lima hakhak tersebut maka hakim boleh membebaskan yang bersangkutan, sepanjang tidak ada hal lain yang menjadi back-ground di dalam peristiwa tersebut.

Jiwa manusia paling berharga pada diri setiap orang. Orang bekerja secara rutin demi untuk mempertahankan hidup diri dan keluarganya yang hidup di dalam tanggungannya.

Melayangkan jiwa seseorang di dalam Islam sama dengan melayangkan jiwa semua orang, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat, barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved