Opini Muammar Bakry
Ramadan dengan Cinta 5: Cinta Terlarang
Cinta itu urusan hati, Nabi saw misalnya ditanya siapa di antara istrinya yang paling disukai, Nabi jawab Aisyah.
Oleh: Muammar Bakry
Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf
TRIBUN-TIMUR.COM - Islam didirikan atas kasih sayang dan cinta. Menyembah Allah dan mengikuti Nabi dasarnya adalah cinta.
Manisnya iman hanya bisa dirasakan jika didasari dengan cinta (mahabbah).
Keakraban dalam keluarga pada pasangan suami istri, pertalian orang tua dan anak, antar saudara juga mesti didasari dengan cinta.
Cinta itu urusan hati, Nabi saw misalnya ditanya siapa di antara istrinya yang paling disukai, Nabi jawab Aisyah.
Artinya sekalipun Nabi memiliki lebih dari satu istri, tapi cinta memiliki kadar yang Allah titipkan dalam hati.
Lebih luas dari sekedar cinta kepada makhluk hidup, Nabi saw juga pernah menyampaikan dalam satu sabdanya tentang kecintaannya pada gunung Uhud, “Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya (HR. Bukhari)”, artinya interaksi cinta bukan hanya sebatas makhluk hidup tapi lingkungan di sekitar kita.
Klasifikasi cinta dapat dibagi sesuai stratifikasi hukum pada wajib, sunah, makruh, mubah dan haram.
Cinta yang diwajibkan seperti mencintai Allah dan Rasul-Nya, dasar cinta itulah kita beribadah.
Ada juga cinta sunah, yakni cinta yang yang dianjurkan dengan menampakkan kesukaan kepada orang yang dihormati dan dimuliakan karena kebaikannya seperti orang tua, ulama, guru dan lain-lain.
Selain dua cinta di atas, ada cinta yang mubah (dibolehkan) yakni menampakkan rasa cinta pada hal-hal yang dibolehkan misalnya kecintaan pada hobi yang tidak bertentangan dengan agama.
Cnta kepada orang-orang yang dihalalkan untuk dicintai seperti kepada istri, suami, anak, saudara baik secara nasab atau didasari atas persamaan seperti keimananan, kesukuan, kebangsaan dan seterusnya.
Cinta yang amat serius untuk diantisipasi adalah cinta haram, cinta terlarang. Cinta terlarang ini adalah cinta yang mengarah kepada fitnah seperti perbuatan keji, kemungkaran, berita hoaks dan lain-lain.
Menyenangi kemungkaran dan perilaku keji yang terjadi di masyarakat adalah hal yang berbahaya bagi stabilitas hati seseorang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Prof-Dr-Muammar-Bakry-Lc-MA-1-14112024.jpg)