Mari Cintai Budaya dan Warisan Leluhur Lewat Aksara Lontara
Lontara pada saat itu digunakan untuk menuliskan kejadian yang ada pada saat itu, mencatat peristiwa peristiwa penting, ilmu pengetahuan, dokumen
Oleh: Andi Nurhikmah Daeng Cora, S.Pd. ,M.M.,Ph.D
Pemerhati Budaya dan Ketua Umum Nasional Budaya Indonesia Pertiwi
TRIBUN-TIMUR.COM -- Aksara Lontara bukan sekedar warisan budaya tulis namun lontara menjadi identitas budaya bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Aksara Lontara diciptakan oleh Daeng Pamatte yang merupakan Tumailalang. Daeng Pamatte merupakan Syahbandar Kerajaan Gowa sekaligus Tumailalang Kerajaan Gowa pada zaman pemerintahan kerajaan Gowa ke IX dengan Rajanya yang bernama I Mannuntungi Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi ka Kallonna di tahun 1510 sampai dengan 1546.
Pada saat itu Raja Gowa memerintahkan Daeng Pamatte untuk membuat aksara yang disebut Aksara Lontara yang digunakan untuk menuliskan kejadian yang ada pada saat itu, mencatat peristiwa peristiwa penting, ilmu pengetahuan, dokumen resmi seperti perjanjian, surat perdagangan, penulisan peta dan sekaligus sebagai alat komunikasi tertulis.
Dinamakan lontara karena awalnya media yang digunakan adalah daun lontara.
Ini menandakan bahwa Bahwa peradaban yang sangat luar biasa dan warisan leluhur itu telah ada di bumi nusantara ini jauh sebelum terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia.
Salah satu contoh adalah warisan Aksara Lontara
Andi Nurhikmah Daeng Cora,S.Pd., M.M sebagai pemerhati Budaya dan Ketua Umum Nasional Budaya Indonesia Pertiwi menyampaikan apresiasi kepada kementerian khususnya Kemendikdasmen yang terus menerus berkomitmen untuk menerapkan pendidikan karakter dan pengembangan budaya kepada generasi muda
Sebagaimana arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa pendidikan tidak hanya tentang memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter.
Tentunya menjadi pendorong bagi kita semua untuk membangun karakter dan meneruskan warisan warisan budaya leluhur misalnya kebudayaan daerah, seni tradisional dan yang paling terkhusus adalah minat menulis dan membaca melestarikan bahasa daerah bagi anak anak generasi pelanjut kita seperti Aksara Lontara
Ini contoh HERITAGE yang harus kita jaga dan lestarikan" Tutur Ketua Umum Nasional Budaya Indonesia Pertiwi, Andi Nurhikmah Daeng Cora.
Lontara Mangkasara dimulai dengan Lontara Toa atau dikenal dengan Lontara Jangang Jangang. Lontara ini merupakan lontara pertama yang diciptakan oleh Daeng Pamatte.
Lontara jangang jangang bila ditinjau dari karakter dan pola penulisannya maka bentuk tulisannya mirip dengan jangang jangang atau burung yang mirip dengan aksara Kawi.
Selain menciptakan aksara lontara, Daeng Pamatte menulis naskah atau buku “Lontara Bilang Gowa Tallo”.
Lontara Bilang dapat dapat ditemukan di Belanda, salah satunya di Universitas Leiden yaitu terjemahan A.Logtvoet dalam bukunya yang berjudul “Transcriptive van het Dagboej der Vorsten van Gowa en Tallo, met Vertaling en aanteekeningen” BKI, 1880.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Tulisan-lontara-yang-ditulis-Andi-Nurhikmah-Daeng-Cora-3454.jpg)