Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Mubha Kahar Muang

Perjuangan Penduduk Asli Singapura

suku Orang Laut berasimilasi dengan budaya Melayu dan kehilangan bahasa asli. Keturunan pengembara laut ini berusaha menghidupkan lagi budaya mereka

Editor: AS Kambie
zoom-inlihat foto Perjuangan Penduduk Asli  Singapura
dok.tribun
Mubha Kahar Muang, Anggota FKP DPR RI 1987-1992-1997-1998

Oleh: Mubha Kahar Muang
Anggota FKP DPR RI 1987-1992-1997-1998

TRIBUN-TMUR.COM -  Sejarah Singapura bermula pada abad ke-14. 

Saat itu dikenal dengan nama Temasek, salah satu pelabuhan terpenting Nusantara di bawah kekuasaan Sriwijaya yang sedang mengalami kemunduran. 

Setelah lepas dari Sriwijaya, Temasek diperebutkan oleh Majapahit dan Siam. Singapura pada akhirnya dikuasai oleh Majapahit. 

Nama Temasek diganti menjadi Shingha Pura, bahasa Sansekerta yang berarti Kota Singa.

Tahun 1819 Thomas Stamford Raffles tiba di Singapura dan menetapkannya sebagai pusat perdagangan. Sejak itu Singapura berada di bawah koloni Inggris sampai pendudukan Jepang tahun 1942–1945 lalu kembali ke bawah penguasaan Inggris. 

Tahun 1959 Singapura diberi hak untuk memerintah sendiri dan pada September 1963 memperoleh kemerdekaan.

Singapura kemudian membentuk kesatuan dengan Negara Persekutuan Malaysia. 

Namun, pada 7 Agustus 1965 Singapura pecah disebabkan oleh konflik antara partai berkuasa United Malays National Organisation (UMNO) di Malaysia dan Partai Aksi Rakyat Singapura (PAP) yang dipimpin Lee Kuan Yew. 

Pada 9 Agustus 1965 Singapura berdiri sebagai sebuah negara Republik dan Malaysia menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatannya.

Wajib Militer

Singapura merupakan salah satu dari 40 negara di dunia yang melaksanakan wajib militer bagi warganya yang berusia 18 tahun ke atas selama 22-24 bulan. 

Wajib militer atau di Singapura disebut National Service mulai berlaku sejak 1967.

Setelah mengikuti wajib militer dua tahun, setiap pria dianggap siap dan menjadi serdadu cadangan hingga berusia 40 tahun.

Meskipun luas wilayah Singapura tergolong kecil, yaitu 715 km2 atau 0,038 persen dari Indonesia, tetapi Singapura memiliki salah satu pasukan militer paling maju di Asia Tenggara. 

Angkatan Bersenjata Singapura bertugas untuk mencegah kemungkinan serangan dari negara lain dan memiliki pakta pertahanan bersama dengan beberapa negara, termasuk jaringan pelatihan.

Singapura saat ini menjadi negara dan kota yang penting di dunia. 

Memanfaatkan letaknya yang strategis.

Singapura membangun infrastruktur perdagangan dan pelayaran disusul dengan pembangunan fasilitas jasa keuangan dan jasa lainnya. 

Strategi ini diambil mengingat wilayahnya yang sempit. 

Pelabuhan Singapura, saat ini, adalah satu dari lima pelabuhan tersibuk di dunia. Korporasi-

korporasi besar dunia pun melirik Singapura dan menjadikannya basis penghubung dengan kawasan Asia Pasifik.

Esplanade

Salah satu aspek dalam perhitungan indeks kualitas hidup Singapura dinilai tinggi ialah terpenuhinya kebutuhan spiritual, rekreasi, dan hiburan.

Pemerintah Singapura sejak 1990-an mulai mempromosikan negaranya sebagai pusat seni dan budaya. 

Usaha ini mencapai puncaknya dengan diresmikannya Esplanade, Theatres on the Bay, sebuah pusat teater kelas atas pada 12 Oktober 2002 di bawah pengelolaan Singapore National Art Council.

Lembaga ini juga memiliki kalender festival tahunan seperti Singapore Art Festival. 

Di Esplanade berbagai seni pertunjukan seperti musik, balet, opera, dan teater penting dunia, dipertunjukkan. Sehingga warga tidak perlu ke Eropa atau Amerika untuk menyaksikan pertunjukan kelas dunia.

Untuk mempertahankan keterkaitan antara masa lalu dan masa kini, pusat seni ini akhirnya dinamakan Esplanade, Theatres on the Bay.

Esplanade adalah salah satu pusat kesenian Singapura. Pembangunan fisiknya dimulai tahun 1996 dan rampung tahun 2001, diresmikan pada 12 Oktober 2002.

Peresmian dimeriahkan dengan festival yang berlangsung selama 24 hari dan melibatkan 1.300 artis dari 22 negara dalam 70 acara atau hiburan dan 600 event secara gratis.

Esplanade terdiri atas dua gedung megah, yaitu Concert Hall dan Theatre Hall.

Concert Hall merupakan aula yang megah untuk pertunjukan musik mulai dari klasik, jazz, pop, dan rock yang memiliki kapasitas 1.800 orang.

Theatre Hall merupakan aula besar bergaya gedung opera tradisional Eropa, memberikan pengaturan close-up untuk penonton dan pemain. 

Theatre Hall  memiliki kapasitas tempat duduk 2000 penonton terdiri atas empat tingkat. Sehingga meskipun memiliki kapasitas penonton 2000 kursi, jarak terjauh kursi dengan panggung hanya 40 meter, sehingga penonton tetap dapat menyaksikan dengan jelas art performance di panggung. 

Selain kedua hall tersebut di atas, terdapat juga Outdoor Theatre. Theatre ini membentang sepanjang 300 meter di pantai Marina dengan kapasitas 450 orang. 

Pengunjung dapat menikmati pertunjukan di bawah langit Singapura sambil menikmati suasana laut yang menyegarkan. 

Singapura berpenduduk 5,6 jutaan tahun 2018 terdiri dari etnis Cina 74,3 persen, Melayu 13,3 %, India 9,1?n lain–lain 3,3 %. 

Dilihat dari Index Demokrasi, Singapura tidak tergolong bagus. Menurut The Economist Intelegence Unit berada di rangking ke-75 dunia. 

Sebaliknya dari sudut korupsi, Singapura merupakan negara yang bersih. 

Catatan Corruption Index 2005 menempatkan Singapura di urutan kelima tertinggi di dunia.

Sementara itu, The Economist Intelligence Unit 2005, yang membuat perhitungan Indeks Kualitas Hidup, Singapura berada pada urutan kesebelas di dunia. 

Posisi ini menempatkan Singapura pada urutan pertama di Asia. 

Penduduk Asli Singapura

Melihat capaian Singapura diatas, tidak banyak yang tahu, suku asli Singapura.

Suku Orang Laut adalah penduduk asli pertama yang mendiami wilayah Singapura. 

Kini, mereka sudah terlupakan. Bagaimana kisahnya?

Seiring berjalannya waktu, suku Orang Laut telah berasimilasi dengan budaya Melayu dan kehilangan bahasa aslinya. 

Tapi keturunan pengembara laut ini berusaha menghidupkan kembali budaya mereka melalui makanan.

Berkumpul dengan keluarga  menyajikan sajian khas Suku Orang Laut yang menggiurkan, dengan duduk bersila di lantai dan makan dengan tangan seperti biasa.

Asnida salah satu keturunan Suku Orang Laut yang berupaya menghidupkan sejarah akan asal usul turunan mereka melalui makanan khas mereka.

Membuat makanan khas satu-satunya cara yang dia tahu. 

Ini dilakukan Asnida bertahun-tahun setelah bibinya pindah ke apartemen kecil di Clementi, sebuah kawasan perumahan di barat daya Singapura, jauh dari desa di tepi Pulau Sudong, tempat dia dulu bersama keluarga menetap.

Pulau Sudong sekarang merupakan daerah pelatihan militer. Ini adalah pulau di lepas pantai selatan Singapura yang pernah menjadi rumah bagi Orang Laut (bahasa Melayu untuk "manusia laut"). 

Mereka adalah penduduk asli dan diyakini sebagai penduduk pertama Singapura.

Penyebutan paling awal tentang kelompok pengembara laut ini berasal dari sebuah buku seorang pelancong China ke Singapura pada abad ke-14, ratusan tahun sebelum kedatangan Inggris pada 1819.

Suku Orang Laut Singapura termasuk Orang Seletar yang tinggal di hutan bakau dekat Sungai Seletar.

Orang Biduanda Kallang dari Sungai Kallang

Orang Gelam di akhir Sungai Singapura, dan Orang Selat dari Kepulauan Selatan.

Ada juga komunitas Orang Laut lainnya yang tinggal di rumah perahu di laut di bagian selatan Semenanjung Malaysia dan Kepulauan Riau di Indonesia.

Menurut Asnida, yang kini menjadi pendidik dan pembela pelestarian warisan Orang Laut, dia merasakan kegembiraan saat mengingat kenangan manis memakan asam pedas semasa remaja.

Asnida mengatakan, yang menonjol dari asam pedas di pulau utama karena dibumbui dengan lada hitam yang dihancurkan menggunakan batu giling tradisional.

"Asam pedas buatan bibi terkenal di kalangan penduduk Pulau Sudong," kata Asnida.

Apa yang dicapai Singapura saat ini, harus tetap diingat bahwa, suku asli dan peradabannya pada masa lalu  adalah, sejarah yang menjadi tonggak kehadiran bangsa dan negara Singapura saat ini. Karenanya dapat dipahami jika kelestarian sejarah tersebut menjadi harapan warga terutama penduduk asli.

(*)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved