Tak Ada Makan Siang Gratis
Rudyard Kipling, peraih Nobel sastra 1907, di bukunya "American Notes" (1891), mengungkap "No Free Lunch", mulanya masyhur di abad-19
Merealisasi janji -- kini nama program ini keren, Makan Bergizi Gratis (MBG) -- sekira gimana ya? Apa sebelumnya telah dikalkulasi? Soalnya, saat sama negara mesti melunasi banyak utang. Niatnya baik, meski (usah disesali) mulanya demi meraih simpati pemilih. Mumpung, kini eranya pemilih maniak gratis. "Minal mahdi ilal lahdi", dari lahir hingga liang lahat.
Idialnya Rp 460 Triliun pertahun untuk 82,9 juta orang. Tapi kekuatan APBN kita 2025 ini, hanya mampu menyisih Rp 71 Triliun, dari Rp 140 Triliun yang dibutuh, melayani 15 hingga 17 juta orang. Penanda, tahun ini ada 60-an juta lagi belum disentuh. Pun, Rp 71 Triliun yang ada, kurang Rp 69 Triliun lagi. Dan semua kita bertanya lagi, "Every body will ask", muasal mana negara dapat uang sebesar itu?
Pusing, putar otak tujuh keliling. Tarif PPN "disesuaikan" dari 11 persen ke 12 % . Cukai rokok, Tol, juga BBM, naikkan. Pangkas perjalanan dinas. Tunda projek Infrastruktur. Dan yang tragis -- seperti sejak mula saya duga (intip wawancara saya di podcast youtube Rijal Djamal, 13/08/2023) -- APBD Provinsi dan Kabupaten, ikut dipalak.
Mirisnya lagi, orang-orang yang kita pilih duduk di kursi atas, aling-aling menawar opsi "rakyat ikut saweranlah nutupi kekurangan ini". Demi negara, kita mau. Orang Aceh, dulu juga saweran beli pesawat buat negara. Cuman, kini rasanya tak elok, saat sama rakyat menyaksikan pemimpin bermewahan. Terbelalak, menatap triliunan uang negara, dirampok.
*
Sungguh benarlah, "no such thing as a free lunch". Memang tak ada dinamai "makan siang gratis". Idiom ini tak semata elegori, majas menyisip makna terselubung, justru faktual. Depan mata, telanjang apa adanya. Demi merealisasi MBG, janji pemilu, seisi negeri dilarung untuk ditarung.
Mereka menjanji gratis, kita senang. Naif, kita tak ubahnya pengunjung resto dan bar di Amerika abad-19 (seperti diurai di bagian tengah catatan ini). Kita bahagia melihat anak-anak diberi makan gratis oleh negara, taunya hasil "palak" sana sini. Semoga anak-anak kita, tak "keselek" saat melahap makanan gratis itu.
APBN kita mestinya se-efektifnya digunakan untuk pemenuhan hajat rakyat banyak, yang masih meringis tentang banyak soal. Dan APBD kita era otda, idialnya fiskal menutup banyak lubang soal di daerah, pula di APBD-P September nanti, pula akan ikut dicubit demi MBG.
*
Jelang menutup catatan ini, saya serasa tak kuasa membayangkan kesibukan memasak, tiap hari di seantero negeri. Tentu, kita butuh mengimpor dua juta ekor sapi, buat daging dan susu. Butuh berton-ton beras, telur, sayur, cabe, garam, terasi, piring, sendok-garpu, dan lainnya.
Mengingatkan saya, pada karib saya pedagang beras. Sejak MBG dilansir, telah bersiap ikut tender pengadaan beras. "Saya ikut tender tusuk giginya saja" ujar saya. "Wah!" Dia bingung. "Untungnya, besar Bos" kata saya. "Kok?" Masih bingung. "Tusuk gigi, kan bisa cuci ulang Bos!". Hi hi hi...
Makassar 18 Januari 2025
| Duduk Perkara hingga Komisi D DPRD Sulsel Minta Proyek Tanggul dan Jalan Sungai Tello Dihentikan |
|
|---|
| DPRD Sulsel Minta Proyek Tanggul Sungai Tello Makassar Dihentikan Sementara |
|
|---|
| Pilkada DPRD: Solusi atau Kemunduran Demokrasi? |
|
|---|
| Meneladani Gagasan Ekoteologi Menag RI KH Nasaruddin Umar |
|
|---|
| 2026: Arah Baru Strategi Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Armin-Mustamin-Toputiri-4565.jpg)