Opini
Los Angeles Apokalips, Kebencian dalam Narasi Hukuman Ilahi
Kebakaran Los Angeles mengakibatkan kehancuran kediaman-kediaman elite selebriti Hollywood.
Oleh: Bahrul Ikhsan
Bersama Institute for Interfaith Encounter and Religious Literacy/Alumni Prodi Studi Agama-Agama UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Kebakaran Los Angeles dikatakan sebagai bencana paling mengerikan yang menimpa Amerika Serikat (AS) dalam dua dekade terakhir.
Ketika tulisan ini disusun, bencana tersebut telah memakan 24 korban jiwa dan kemungkinan besar terus bertambah. Ada pun kerugiannya mencapai 159 miliar dolar AS (sekitar Rp20 ribu triliun).
Kebakaran Los Angeles mengakibatkan kehancuran kediaman-kediaman elite selebriti Hollywood.
Langit bersemu merah, menampakkan kengerian seakan-akan apokalips (kiamat) tiba di Amerika.
Kepulan asap hitam membubung tinggi di langit, mengepung kota sehingga penduduk harus memakai masker agar terhindar dari polusi.
Ratusan ribu penduduk Los Angeles terpaksa mengungsi karena puluhan ribu hektare lahan mereka musnah dilahap si jago merah. Aktivitas terhenti, listrik mati dan kota tenggelam dalam lautan api.
Sekolah-sekolah ditutup bahkan berbagai produksi Hollywood harus dibatalkan seperti: penghargaan Critics Choice Awards, pemutaran perdana film Hollywood sampai Nominasi Oscar 2025, ajang penghargaan paling bergensi bagi insan perfilman dunia.
Meskipun penyebab utamanya masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut, beberapa pakar berpendapat bahwa dalang dari malapetaka ini adalah kombinasi dari cuaca ekstrem dan aktivitas manusia sendiri yang kemudian diperparah oleh badai angin Santa Ana, angin kering yang berhembus melalui California Selatan.
Namun, tak sedikit pula yang menganggapnya sebagai karma dan mengaitkannya dengan hukuman Ilahi.
Hukuman Ilahi atau Kebencian dalam Cocoklogi
Di antara banyaknya dukungan internasional kepada penduduk Los Angeles, tak sedikit pula yang ‘merayakan’ tragedi memilukan tersebut.
Mereka tak segan-segan memenuhi komentar pada setiap postingan terkait kebakaran Los Angeles dengan kata-kata bernada nyinyir atau kebencian seperti, “Syukurin, semoga kebakaran semakin meluas hingga AS musnah dari peta dunia!’ atau, “Mampus, AS kena karmanya!”.
Menurut Ziauddin Sardar, cendekiawan Muslim dari Pakistan, setidaknya ada tiga alasan umum mengapa orang-orang membenci Amerika Serikat. Pertama, Amerika menjadi sekutu terbesar Israel.
| Konsekuensi Pemisahan Rezim Pemilu Nasional dan Lokal: Transformasi Kaderisasi Berbasis Kinerja |
|
|---|
| Anomali Intervensi Komisi III DPR Dalam Penegakan Hukum |
|
|---|
| Mencari Kewenangan di Tengah Jalan Berlubang |
|
|---|
| Membaca Arah Industrialisasi Nikel dari Lingkar Tambang Kolaka |
|
|---|
| Urgensi Penetapan Lokasi Pelaksanaan Pidana Kerja Sosial oleh Pemerintah Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Bahrul-Ikhsan-100.jpg)