Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Uang Palsu UIN Alauddin

Rudianto Lallo Duga Ada Pemodal Besar di Balik Pencetakan Uang Palsu di UIN Alauddin Makassar

Rudianto Lallo menduga ada pemodal besar di balik pencetakan uang palsu di UIN Alauddin Makassar dan meminta polisi mengungkap aktor intelektualnya.

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun Timur
Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo, meminta polisi mengungkap aktor intelektual dan pemodal besar di balik kasus pencetakan uang palsu di UIN Alauddin Makassar. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo, menduga ada pemodal besar di balik keberadaan mesin pencetak uang palsu di Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) Samata, Kabupaten Gowa.

Dugaan legislator Nasdem ini dikuatkan barang bukti berupa mesin berukuran besar yang disita Polres Gowa.

Menurutnya, untuk mendapatkan mesin secanggih itu, dibutuhkan modal yang tidak sedikit.

Tentu, pengadaannya pun, kata dia, harus melibatkan pemodal yang tidak sembarangan.

Oleh karena itu, Rudianto Lallo meminta polisi agar tidak berhenti menyelidiki kasus ini hanya pada 15 orang pelaku telah ditangkap.

"Saksi-saksi kan sudah ditersangkakan, 15 orang itu, kan bisa pengembangan di situ, digali keterangannya," ujar Rudianto Lallo saat ditemui di rumah aspirasi yang akan diresmikan di Jl AP Pettarani, Makassar, Rabu (18/12/2024) sore.

"Siapa otaknya, siapa pemodalnya minimal. Ini kan pakai uang ini, alatnya canggih, pasti mahal harganya, dan siapa bandarnya, kira-kira begitu," sambungnya.

Baca juga: Sindikat Uang Palsu Gowa Membesar, Kapolres: Tersangka Bisa Bertambah

Mantan Ketua DPRD Kota Makassar ini mensinyalir, 15 tersangka diamankan polisi baru sebatas orang lapangan, bukan aktor intelektual atau pemodal dari kejahatan tersebut.

"Siapa pemodalnya, ini harus diungkap, bukan pelaku lapangan saja. Kalau pelaku lapangan pasti ada menyuruh atau kepala perpustakaannya saja," ungkap Rudianto.

"Atau mungkin kepala perpustakaannya saja. Mungkin ada keterbatasan biaya, ongkos. Nah, ini yang biasa biayai ini orang besar, ini yang harus diungkap," bebernya.

Kolase Dr Andi Ibrahim dan uang palsu.
Kolase Dr Andi Ibrahim dan uang palsu. (Kolase Tribun Timur)

Selain itu, Rudianto juga menyoroti lambatnya pengungkapan kasus ini ke publik.

Menurutnya, kasus besar seperti ini seharusnya harus diungkap ke publik secara cepat sebagai bukti transparansi kepolisian dalam menangani sebuah perkara.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau kemudian dalam proses tingkat penyelidikan dan penyidikannya terkesan lamban dan sebagainya, kita desak supaya Kapolres tidak bermain-main, penyidik tidak bermain-main," tegas Rudianto Lallo

"Bongkar, ungkap siapa aktor intelektual leadernya, siapa dalangnya? Kok bisa lembaga pendidikan tinggi di bawah kementerian agama itu di dalamnya (ada pabrik uang palsu)," sambungnya.

Terlebih, kata dia, mesin pencetak uang palsu itu ditemukan di dalam perpustakaan yang notabenenya simbol ilmu pengetahuan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved