Demonstrasi Papua
Refleksi Aksi Demonstrasi Papua Tanggal 1 Desember 2024
Kehadiran agama Kristen di Papua pada pada tahun 1855 terlihat sebagai sarana modernisasi bagi peradaban manusia untuk mengarahkan masyarakat Papua me
Kehadiran Belanda mengakibatkan penurunan kekuasaan penguasa lokal Kaimana, yang merasa dirinya dan rakyat yang ia pimpin mengalami penindasan dan penaklukan.
Sebagai respons, terjadi penyerangan terhadap Benteng Fort du Buis oleh masyarakat Kaimana.
Perlawanan ini menggambarkan perbedaan persepsi mengenai kepemimpinan dan kekuasaan: penguasa Kaimana menerapkan nilai, norma, dan tradisi setempat, sementara Belanda membawa pengaruh modern Eropa yang mengubah pola-pola tradisional yang telah lama berlaku di wilayah tersebut.
Gerakan perlawanan ini pada dasarnya adalah gerakan yang berakar pada etnisitas, memperjuangkan pandangan bahwa warisan tradisional orang Papua bukanlah sesuatu yang
kuno atau terbelakang.
Setiap elemen tradisional yang dimiliki oleh orang Papua dianggap sebagai identitas etnis yang inheren.
Menurut Bhattacharya (2024), "Suatu komunitas biasanya dikenali melalui warisan budaya yang sudah tua; sebagai bagian dari itu, kepercayaan tradisional komunitas tersebut memegang kendali dari generasi ke generasi."
Bagi orang Papua, adat istiadat dan budaya, termasuk keyakinan mereka, merupakan identitas etnis yang terus dipelihara dan dijaga dari generasi ke generasi.
Kehadiran agama Kristen di Papua pada pada tahun 1855 terlihat sebagai sarana modernisasi bagi peradaban manusia untuk mengarahkan masyarakat Papua memasuki era baru.
Namun, implementasi ajaran Kristen di era tersebut ternyata belum mendapatkan sambutan positif dari masyarakat setempat.
Menurut catatan sejarah oleh FC Kamma, konflik terkait dengan agama di Papua pertama kali tercatat pada tahun 1863.
Konflik ini berkembang sebagai reaksi perlawanan terhadap penyebaran teologi Kristen Barat yang mulai merambah wilayah tersebut.
Situasi ini menciptakan ketegangan yang signifikan, sebab bertentangan dengan teologi pribumi yang sudah lama berkembang di Papua.
Teologi pribumi merujuk pada kepercayaan tradisional masyarakat Papua.
Penolakan terhadap penyebaran agama Kristen ditandai dengan munculnya gerakan mesianik, yang mendefinisikan diri sebagai bentuk komunikasi kepada dunia luar bahwa kepercayaan tradisional mereka setara, jika tidak lebih unggul, dari ajaran baru yang dianggap modern.
Dalam berbagai bentuk perlawanan, salah satu yang paling terkenal dan populer adalah gerakan Koreri.
Gerakan Koreri dianggap sebagai simbol penting dari perjuangan pembebasan dan identitas masyarakat adat di Papua, yang berupaya mempertahankan nilai-nilai dan kepercayaan yang telah lama mereka anut di tengah arus modernisasi yang datang dari luar.
Yotam Senis
Sosiologi Unhas
Organisasi Papua Merdeka
NKRI harga mati
demo 1 Desember
FC Kamma
demonstrasi Papua
| Kronologi Pengeroyokan Sekuriti di Boulevard Makassar, Diserang Pakai Badik usai Tegur Jukir Liar |
|
|---|
| Nyaman di Kanan! Transformasi Posisi Dusan Lagator Berkah untuk PSM Makassar |
|
|---|
| Kronologi Lengkap Penikaman di Wajo, Cemburu Picu Amarah, Bantahan Korban Tak Hentikan Serangan |
|
|---|
| Aktivitas Proyek Sekolah Rakyat Sinjai Dikeluhkan, Jalan Dipenuhi Lumpur dan Kerikil |
|
|---|
| Kronologi Kecelakaan di Bone: Korban Berlari lalu Lompat ke Tengah Jalan, Terseret 8 Meter |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Yotam-Senis-Mahasiswa-Program-Doktor-Sosiologi-UNHAS.jpg)