Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Tongkat Guru

Apakah masih relevan hukuman fisik terhadap murid-murid? Dan bagaimana jenis hukuman yang dibolehkan dalam teori pendidikan Islam?

Editor: Sudirman
Ist
Dr Ilham Kadir MA, Sekretaris Umum MUI Enrekang 

Berita dari Khalifah Harun ar-Rasyid dengan putra mahkotnya, al-Amin dapat menjadi contoh konkrit penanaman iman, ilmu, dan adab dengan sedikit paksaan.

Sebagaimana laporan yang dikutif Prof. Syalaby bahwa Abu Maryam, muaddib [guru pribadi] al-Amin dan al-Ma’mun, pernah memukul al-Amin dengan sepotong kayu sehingga sikunya luka—mungkin berdarah.

Ketika Khalifah ar-Rasyid memanggil al-Amin untuk makan bersama. 

Maka dengan sengaja putra mahkota memperlihatkan, dengan membuka lengan baju di sikunya dan kelihatan luka itu oleh ar-Rasyid.

Lalu, ar-Rasyid bertanya padanya terkait penyebabnya. Lalu al-Amin menjawab, ‘Aku telah dipukul oleh Abu Maryam’.

Lalu, ar-Rasyid meminta agar didatangkan Abu Maryam, dan bertanya pada muaddib itu.

Kenapa Muhammad al-Amin mengadu tentang dirimu? Abu Maryam menjawab, ‘Terlalu nakal, kelewatan, membuat saya kewalahan!’ jawab Abu Maryam. ‘Bunuh saja dia.

Kalau mati, itu lebih baik daripada ia menjadi anak tak berguna’, Kata Harun ar-Rasyid kepada Abu Maryam di depan al-Amin.

Sadarilah semua, bahwa guru merupakan komponen paling penting dan strategis dalam dunia pendidikan.

Andaikata tidak ada kurikulum tertulis, tidak ada ruang kelas, serta sarana dan prasarana lainnya minim, namun masih ada guru, maka kegiatan pendidikan masih dapat berjalan.

Pada zaman Fulsuf Yunani, Socrates (399 SM), dapat melaksanakan pendidikan kepada generasi muda dan masyarakat pada waktu itu, walaupun tidak ada ruang kelas dan berbagai fasilitas belajar lainnya.

Dulu pun, saya hanya belajar di masjid, rumah kiai, di bawah pohon, dan di teras rumah penduduk, namun kami memiliki guru yang berkualitas, ikhlas mengabdi untuk agama dan bangsa. 

Dan sangat mudah jika ingin melemahkan dan menghancurkan sebuah bangsa, jadikan guru-guru tak berdaya, batasi ruang gerak mereka, cukupkan dengan menjejali murid pelajaran demi pelajaran, jangan urus akhlak mereka, biarkan para murid jadi generasi biadab.

Apa pun yang mereka kerjakan, tidak usah diperhatikan, biarkan mereka terbiasa dengan kejahatan, aneka kemungkaran dan kemaksiatan, maka hasilnya, akan muncul generasi strawberry, imut dipandang, tapi rapuh, dan pada akhirnya akan lahir peradaban kurcaci. Wallahu A’lam!

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved