Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

November Rain: Hujan, Kemiskinan, dan Transaksi Politik

Tentu, ini akan membawa dampak besar bagi kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama untuk mereka yang harus bekerja di luar ruangan.

Editor: Sudirman
Ist
Fahrul Dason Ketua Umum BEM FAI 

Tidak hanya itu, berbagai institusi dikerahkan untuk menyisir akar rumput, seperti yang terjadi di Kabupaten Gowa, ketika
para Kepala Desa rapat perihal memberikan dukungan pada salah satu paslon.

Ini umum di negara berkembang, dan Indonesia adalah salah satu contoh yang masih sering menggunakan praktik tersebut, bahkan meningkat setiap menjelang masa-masa pemilhan, sampai Pilkada yang akan digelar bulan November.

Peningkatan ini telah dipaparkan berdasarkan penelitian Prof. Burhanuddin Muhtadi yang bertajuk “Votes For Sale Klientalisme, Defisit Demokrasi, dan Institusi” bahwa sekitar 33 persen, atau 62 juta dari total 187 juta pemilih yang masuk dalam data pemilihan tetap pada 2014 terlibat politik uang, begitupun di tahun 2019.

Lalu tahun 2024 meningkat 35 persen. Apa penyebabnya? Setidaknya disebabkan karena faktor institusi pemilihan yang tidak mampu bersikap independen dan rentan kepentingan.

Lalu? Budaya hukum (Legal Culture) kita telah rusak secara sistem dan praktik, dan ini dikatakan oleh Friedman seorang profesor hukum Amerika, sederhananya dijelaskan bahwa tidak mungkin terjadi politik uang jika para politisi tidak memberikan uang.

Ini juga dikarenakan praktik klientalisme telah mengakar dalam politik Indonesia. Akibatnya, politik uang membuat kita terjebak pada ritual formalitas tanpa substansi, dan demokrasi cenderung mengalami tindakan koruptif dan tak bernilai lagi.

Untuk menjaga nilai tersebut. Kini masyarakat harus lebih mampu menjadi pemilih cerdas, dengan tidak memilih mereka yang memiliki rekam jejak menyalahgunakan kekuasaan dengan menggerakkan institusi sebagai kendaraan politik.

Pilkada ini bukan hanya tentang kalah, dan menang. Melainkan momen perlombaan dalam membangun daerah dengan kerja nyata.

Apalagi dikatakan sebagai pesta demokrasi, itu tidak sama sekali. Karena, ketika Pilkada telah usai, seluruh masyarakat akan kembali pada realitas sesungguhnya.

Akhir dari semua

Kita tak pernah tahu akhir dari semua, dan masyarakat hanya perlu keberlangsungan hidup.

Kepastian yang bukan rasa sakit, memang November ini begitu menakutkan, bagaimana benturan antara hujan, kemiskinan, dan transaksi politik, semuanya menyatu layaknya seperti bom molotov bagi masyarakat.

Musim hujan memang tidak dapat dihindari, dia adalah suatu siklus yang bersifat alamiah.

Akan tetapi, lagu November Rain kembali mengajarkan kita kalau akhir dari semuanya adalah perjuangan untuk menerima bahwa tidak ada yang abadi, begitupun dengan kekuasaan.

Sembari tetap berharap perubahan walaupun hanya secercah cahaya, perlawanan terhadap sesuatu yang menindas bagian dari spirit untuk bangkit, sekalipun itu harus melalui perjalanan di tengah kegelapan dan dinginnya hujan bulan November.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved