Opini
Ada FOMO di Balik Labubu
Sindrom takut “ketinggalan” terhadap satu tren ini disebut FOMO atau Fear of Missing Out.
Oleh: Magdalena I Ovi
Manager Youth, Community and Lifestyle GTM Telkomsel Pamasuka / ICF Certified- People Development and Character Coach
TRIBUN-TIMUR.COM - BARU-baru ini, jagat media sosial dihebohkan dengan boneka bernama Labubu.
Orang-orang rela antri sampai 17 jam untuk sebuah gantungan tas karakter boneka nyengir memperlihatkan sembilan gigi tajam, seharga sampai 1,5 juta rupiah. Tidak begitu jelas mengapa
boneka Labubu menjadi incaran banyak orang di seluruh dunia, tapi satu hal yang pasti boneka mungil ini punya daya magis yang menyebabkan banyak orang mengalami rasa takut “ketinggalan”.
Sindrom takut “ketinggalan” terhadap satu tren ini disebut FOMO atau Fear of Missing Out.
FOMO, istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh Patrick J. McGinnis sejak tahun 2004, dan kian menggaung tak lepas dari peran sosial media.
Beriringan dengan istilah viral, seakan segala yang viral harus diikuti. Mewabahkan rasa takut ketinggalan, kudet alias kurang
update, tidak tenang kalau tidak ikutan.
FOMO adalah salah satu bias kognitif ketika pemikiran dipengaruhi oleh sebagian besar orang.
Ada beberapa istilah yang menaungi bias kognitif ini, antara lain herd instinct (insting kerumunan), keadaan ketika orang merasa melakukan hal yang benar karena hal tersebut dilakukan juga oleh orang banyak.
Insting kerumunan sering dimanfaatkan oleh para marketer untuk menciptakan kesan laris, limited edition, sehingga orang antri untuk memperebutkan.
Penonton bayaran dalam show, suara tawa yang diinstruksikan memberikan efek menulari orang lain dan menumbuhkan insting untuk mengikutinya.
Bandwagon effect, juga merupakan bias yang memungkinkan fenomena FOMO ini bisa terjadi.
Bandwagon effect memungkinkan seseorang menjadi cenderung ikut-ikutan karena mayoritas lingkungan melakukan hal yang sama.
Bias kognitif ini tak jarang menjadi strategi industri untuk melancarkan getok tular atau word of mouth, meningkatkan social proof atau restu sosial, dan memunculkan kebutuhan mendesak bahwa sesuatu itu keren, wajib dimiliki, dan sebagai “syarat” untuk diakui status sosialnya.
Satu bias lagi yang ikut berperan adalah argumentum ad populum.
Bias ini adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika satu proposisi dianggap benar karena sebagian besar orang menganggapnya benar.
Dengan kata lain, jika banyak yang percaya hal itu, maka hal itu adalah benar.
Jika boneka Labubu yang wajahnya menampakkan sembilan gigi taring mencuat itu dianggap lucu oleh banyak orang sampai pada berebutan, maka dia benar lucu.
Bahkan diidentikkan dengan Lisa Blackpink karena dia membawa-bawa boneka ini. Jika menggunakan jasa joki strava demi tetap eksis #setoRUN alias setor target lari demi pengakuan sosial dianggap wajar karena banyak yang melakukan, maka hal itu adalah wajar.
Contoh-contoh logical fallacy alias kesalahan berpikir.
Mereka yang FOMO bisa jadi tidak merasa bahwa hal tersebut merupakan sebuah kesalahan berpikir, bias kognitif, atau gejala psikologis yang dimanfaatkan industri.
Karena mereka melakukannya dengan seru dan gembira. Perang tiket, rebutan, antrian dibungkus dalam bahasa self reward dengan nuansa YOLO (you only live once), sehingga sindrom takut ketinggalan ini justru dirasakan sebagai kebahagiaan bukan ketakutan.
Di sisi lain, FOMO sebenarnya ada manfaatnya. Dalam dunia kerja FOMO dihembuskan untuk membantu meningkatkan produktivitas.
Dalam hal ini bukan ketakutan ketinggalan tren mode, fashion atau gaya hidup konsumerisme, melainkan ketakutan akan kehilangan informasi sehingga mempengaruhi performa kinerja.
Terlebih dalam industri yang bergerak cepat dan membutuhkan agility atau ketangkasan dalam mengambil tindakan dan keputusan.
FOMO dihembuskan sebagai stimulan tim agar terus memutakhirkan pengetahuan mereka sehingga kekinian dalam membuat konsep dan strategi pemasaran.
Kendati demikian ketakutan tetaplah menjadi gejala psikologis yang perlu dinetralisir dan diantisipasi sehingga tidak menjadi makin bias.
JOMO atau Joy of Missing Out sebagai antitesis dari FOMO ada kalanya perlu dinormalisasi dan dijadikan alternatif gaya hidup.
JOMO bukan berarti ketinggalan zaman. JOMO adalah ekspresi kemerdekaan diri memilih apa yang penting dan mengkonsumsi apa yang dibutuhkan.
Patrick McGinnis pencetus istilah FOMO telah memikirkannya selama 17 tahun sebagai penawarnya adalah pengambilan keputusan. Artinya, segala sesuatu dikembalikan kepada karakter dan tujuan kita masing-masing.
Mendidik diri sendiri untuk menentukan skala prioritas agar tidak semata menjadi objek industri.
Segala penawaran yang seliweran di jagad maya maupun nyata, selalu dikembalikan lagi pada pertimbangan biaya dan manfaat. Sehingga dua istilah fear dan joy, kembali kepada makna orisinalnya, bahwa ketakutan (fear) tentu tidak lebih mengasyikkan dibanding kesenangan (joy). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Magdalena-I-Ovi-Manager-Youth-Community-and-Lifestyle-GTM-Telkomsel-Pamasuka.jpg)