Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ada FOMO di Balik Labubu

Sindrom takut “ketinggalan” terhadap satu tren ini disebut FOMO atau Fear of Missing Out.

Tayang:
Editor: Sudirman
Ist
Magdalena I Ovi, Manager Youth, Community and Lifestyle GTM Telkomsel Pamasuka / ICF Certified- People Development and Character Coach 

Satu bias lagi yang ikut berperan adalah argumentum ad populum.

Bias ini adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika satu proposisi dianggap benar karena sebagian besar orang menganggapnya benar.

Dengan kata lain, jika banyak yang percaya hal itu, maka hal itu adalah benar.

Jika boneka Labubu yang wajahnya menampakkan sembilan gigi taring mencuat itu dianggap lucu oleh banyak orang sampai pada berebutan, maka dia benar lucu.

Bahkan diidentikkan dengan Lisa Blackpink karena dia membawa-bawa boneka ini. Jika menggunakan jasa joki strava demi tetap eksis #setoRUN alias setor target lari demi pengakuan sosial dianggap wajar karena banyak yang melakukan, maka hal itu adalah wajar.

Contoh-contoh logical fallacy alias kesalahan berpikir.

Mereka yang FOMO bisa jadi tidak merasa bahwa hal tersebut merupakan sebuah kesalahan berpikir, bias kognitif, atau gejala psikologis yang dimanfaatkan industri.

Karena mereka melakukannya dengan seru dan gembira. Perang tiket, rebutan, antrian dibungkus dalam bahasa self reward dengan nuansa YOLO (you only live once), sehingga sindrom takut ketinggalan ini justru dirasakan sebagai kebahagiaan bukan ketakutan.

Di sisi lain, FOMO sebenarnya ada manfaatnya. Dalam dunia kerja FOMO dihembuskan untuk membantu meningkatkan produktivitas.

Dalam hal ini bukan ketakutan ketinggalan tren mode, fashion atau gaya hidup konsumerisme, melainkan ketakutan akan kehilangan informasi sehingga mempengaruhi performa kinerja.

Terlebih dalam industri yang bergerak cepat dan membutuhkan agility atau ketangkasan dalam mengambil tindakan dan keputusan.

FOMO dihembuskan sebagai stimulan tim agar terus memutakhirkan pengetahuan mereka sehingga kekinian dalam membuat konsep dan strategi pemasaran.

Kendati demikian ketakutan tetaplah menjadi gejala psikologis yang perlu dinetralisir dan diantisipasi sehingga tidak menjadi makin bias.

JOMO atau Joy of Missing Out sebagai antitesis dari FOMO ada kalanya perlu dinormalisasi dan dijadikan alternatif gaya hidup.

JOMO bukan berarti ketinggalan zaman. JOMO adalah ekspresi kemerdekaan diri memilih apa yang penting dan mengkonsumsi apa yang dibutuhkan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved