Opini
Gen Z di Antara Kesaktian Pancasila dan 'Saktinya' Mobile Legend
sosiolog sekaligus psikolog dari MIT, telah memberikan pandangan yang cukup kritis tentang dampak teknologi, termasuk game online.
Oleh: Anshar Aminullah
Wakil Ketua Dewan Pakar MPW Pemuda Pancasila Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Bagaimana jika Gen Z kita di 10 tahun mendatang ketika mengalami keterasingan sosial dan emosional, disaat mereka terpapar tanpa batas karena kehadiran game online dan teknologi digital?
Sherry Turkle, sosiolog sekaligus psikolog dari MIT, telah memberikan pandangan yang cukup kritis tentang dampak teknologi, termasuk game online dalam bukunya Alone Together (2011)
Dalam tulisannya, Turkle mengungkapkan, bahwa jika anak muda acapkali lebih memilih berinteraksi dengan dunia virtual karena mereka merasa lebih nyaman sekaligus memiliki kendali lebih besar atas identitas mereka.
Dan faktanya pada generasi kita sekarang ini, tak sedikit yang justru terjebak dalam siklus adiktif yang pada akhirnya membuat mereka menarik diri dari kehidupan sosial dan kehidupan nyata.
Bahkan tidak tanggung-tanggung, angka user game online di Indonesia, terkhusus rentang usia remaja, tergolong sangat tinggi.
Dalam paparan data ditahun 2022 saja (katadata.co.id) di Indonesia, menjadi negara dengan jumlah pemain video game online terbanyak ketiga di dunia. Sebanyak 94,5 persen pengguna internet di Indonesia yang berusia 16-64.
Mayoritas pengguna dari game online ini berasal dari generasi muda, yakni di rentang usia 16-34 tahun.
Terlepas dari plus-minus permainan game online ini, tentu kita tetap harus menggaris bawahi hasil riset dari Sherry Turkle pada perkembangan mentalitas dan moralitas generasi kita.
Pudarnya Peresapan Spirit
Kita bisa menyepakati, bahwa kemajuan teknologi itu sendiri, yang seyogyanya bertanggung jawab guna membebaskan manusia dari perbudakan pekerjaan di berbagai bidang di negeri ini.
Dan sebagaimana kita catat dalam kenangan history bangsa ini, kita merajut disain secara ideal bagaimana generasi milenial maupun Gen Z dari evolusi sosio-ekonomi negeri ini, terkhusus bagaimana mereka berdinamika dalam kemajuan teknologi, tidak hanya menjadi user atau followers, namun harus menjadi penemu atau pencetus ide awal sebuah gagasan dan penemuan besar.
Harus kita akui, generasi Milenial apatahlagi Gen Z, mereka punya referensi yang jauh lebih banyak dibanding Gen X khususnya bagaimana Pancasila yang tak kalah sakti pasca kemampuan eksistensinya teruji dalam sejarah kelam Gestapu.
Mereka juga mungkin jauh lebih tahu, bagaimana peristiwa di kesaktian Pancasila ini, secara tak Langsung mengajarkan keseimbangan antara keterlibatan di dunia digital dan interaksi di dunia nyata.
| Putusan MK dan Runtuhnya Praktik Multi-Audit Perkara Korupsi |
|
|---|
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Anshar-AminullahWakil-Ketua-Dewan-Pakar-MPW-Pemuda-Pancasila-Sulsel.jpg)