Opini
Kembalinya Semangat Toleransi di Indonesia Melalui Fenomena War Takjil
Kini dihadirkan kembali dalam bentuk yang kekinian dikemas menarik, cenderung nyeleneh namun justru memberi kesan positif.
Hal ini menunjukkan masyarakat kita mulai mampu untuk menerima bahwa perbedaan adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, konsep Bhineka Tunggal Ika kembali mewujud.
Bersuaranya silent majority yang selama ini hidup dalam perbedaan dengan membagikan pengalaman hidup Bersama dalam perbedaan agama di Negara ini menjadi hal yang mendukung terciptanya iklim toleransi beragama di Indonesia.
Peran gen-Z (generasi Z) dalam membuka ruang dialog melalui konten-konten nyeleneh, satir, dan lucu terkait interaksi antar kelompok agama, yang kemudian dibagikan melalui platform media sosial menjadi Gerakan akar rumput yang tercipta dari maysrakat itu sendiri untuk menstimulasi ruang-ruang komunikasi antar umat beragama dalam suasana yang hangat dan damai.
Kemunculan tokoh agama yang tolerant, dan menggunakan medium media sosial secara efektif sebagai sarana dakwah, juga menjadi spektrum baru bagi masyarakat dalam menyikapi perbedaan dan sedikit demi sedikit mengurangi bias/prasangka antar kelompok beragama.
Demikian lah fenomena war takjil di bulan Ramdahan kali ini menjadi sebuah momentum bangsa Indonesia untuk Kembali saling menghargai antar satu sama lain, memperlihatkan kedewasaan dalam menyikapi sebuah perbedaan fundamental melalui semangat toleransi dan kebersamaan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menerima perbedaan, Selamat menunaikan Puasa, Selamat merayakan Paska dan selamat menanti Hari Raya Idul Fitri 2024, Salam damai selalu dan Mari kita Rayakan Perebedaan untuk menuju bangsa yang maju dan kuat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Patmawaty-Taibe-PhD-Dekan-Fakultas-Psikologi-Universitas-Bosowa.jpg)