Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Menang, Kalah, dan Moral

Ambivalensi sikap dari politisi dan negarawan kita, beriring dan sejalan dengan budaya munafik dari bangsa ini

Editor: Saldy Irawan
ist
Irman Yasin Limpo 

OLEH NN (Irman YL)


TRIBUN-TIMUR.COM - Pengumuman siapa yang menjadi pemenang telah diketahui dan ditetapkan secara resmi oleh lembaga yang mempunyai kewenangan tersebut.

Tentu suka cita bagi pemenang dan pendukungnya, dan kecewa bagi yang kalah dan kesedihan tengah menyelimuti para pendukung fanatiknya.

Semoga kecewa dan bahagia ini tidak berlangsung lama karena roda waktu terus berputar, kendaraan kehidupan tidak boleh berhenti, baik yang kalah maupun menang harus bergerak baik sendiri maupun bersama guna mempertahankan ekseistensi dan kualitas hidup masing masing.

Namun, tesis tesis sejarah politik kita selalau melahirkan orang kecewa dari pemenang (sebut oposan) dan opportunis dari yang kalah.

Ambivalensi sikap dari politisi dan negarawan kita, beriring dan sejalan dengan budaya munafik dari bangsa ini, yang tumbuh bak cendawan di musim hujan.

Ciri khas dari oposan pemenang adalah merasa sdh berkeringat banyak dan berjuang mati matian tetapi harapan dan ekspektasinya pasca menang itu tdk sesuai dengan harapan.

Akhirnya terkadang memberi tekanan terhadap pemenang dengan info internal kubu pemenang yang bersifat rahasia dan strategis yang diumbar serta dibumbui melankolis perjuangan sang oposan ini.

Bagaimana dengan oportunis, mereka bercirikan butuh hidup dan kelanjutan eksistensi, disisi ini lebih banyak bersifat ekonomis dibandang idealisme.

Ada ketua partai yang bermodal citra agama dan tokoh reformasi dikenang ideal dan berkubu di yang kalah, pada akhirnya mencari pemenang dan berupaya menyalaminya seakan minta pengampunan dan akhirnya berstatmen mengakui kemenangan sang lawan yang dimaki-maki sebelumnya.

Ada juga kelompok yang berasas demokrasi dan nasionalis menggabung dalam semangat perubahan tapi pada akhirnya "mencium tangan" kubu pemenang dan paling pertama ucap selamat saat penetapan.

Inilah prilaku para orang hebat dan menasional, pertanyaannya apakah hal tersebut baik menjadi pendidikan politik dan karakter bangsa, padahal dari mulut mereka keluar retorika ttg bangsa, nasionalisme dan kemaslahatan.

Suatu yang pasti kita bisa memberikan label bahwa mereka orang yang lebih mementingkan egoisme diri, kelompok, dibandingkan memberikan pelajaran jati diri sebagai negarawan.

Pendidikan ini tidak bisa dialasankan oleh tingkat elektoral yg mereka capai.

Education dan election itu hal yang berbeda.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved