Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ramadhan 2024

Perlawanan Raja Gowa Dimulai dari Masjid Babul Firdaus

Masjid Babul Firdaus terletak di Jl Kumala, Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate, Makassar. Kini, masjid tersebut tengah menjalani renovasi.

Editor: Alfian
ist
Sejarah Masjid Babul Firdaus dahulu masjid ini menjadi ruang-ruang konsolidasi para raja untuk menyusun siasat melawan penjajah Belanda. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Masjid Babul Firdaus, Makassar menjadi saksi bisu perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda.

Masjid Babul Firdaus terletak di Jl Kumala, Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate, Makassar. Kini, masjid tersebut tengah menjalani renovasi.

Sebagai masjid tertua di Makassar, selain menjadi tempat ibadah, Masjid Babul Firdaus juga menjadi tempat pertemuan para raja-raja di Sulsel.

Dahulu, masjid ini menjadi ruang-ruang konsolidasi para raja untuk menyusun siasat melawan penjajah Belanda.

Ketua Pengurus Masjid Babul Firdaus, Andi Ali Bau Sawa menceritakan, masjid itu dibangun oleh Raja Gowa yang ke XXXIV, I' Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang pada 1312 H atau 132 tahun lalu.

Masjid ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan ibadah istana kerajaan Jongaya dan masyarakat setempat.

Mulanya, masjid ini hanya berukuran 10x10 meter.

"Dibangun oleh Raja Gowa yang ke 34 sebagai tempat ibadah warga di daerah selatan kerajaan Gowa, seperti Barombong hingga Karuwisi," papar Andi Ali, Jumat (17/3/2024).

Masjid Babul Firdaus menjadi tempat pertemuan rahasia para raja-raja dan tokoh agama di Sulsel.

Baca juga: Sejarah Masjid Jami’ Nurul Mu’minin Berdiri 1825, Mulanya Hanya Tempat Persinggahan Raja Gowa

Kala itu, kawasan kerajaan Balla Lompoa sudah mulai tak aman karena mata-mata Belanda sudah banyak mengintai.

"Sehingga masjid ini menjadi tempat pertemuan rahasia yang dianggap aman," jelasnya.

Setelah Raja Gowa ke XXXIV I' Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang tutup usia, kerajaaan diwariskan ke putranya Andi Mappanyukki.

Usai dipimpin Andi Mappanyukki, geliat pertemuan para tokoh ulama dan pejuang masih tetap berjalan di masjid ini.

Andi Mappanyukki lah yang memberikan perubahan pada masjid tua ini.

Pada tahun 1956 masjid ini diperluas untuk memfasilitasi lebih banyak jamaah.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved