Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Adab, Ilmu, dan Iman

Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.

Editor: Sudirman
Ist
Dr Ilham Kadir MA, Dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang 

Adab juga lebih mudah dipahami baik sebagai bagian dari tata krama maupun dalam dunia pendidikan.

Adab bukan hanya sekadar sopan santun, tapi merupakan kombnasi antara iman, ilmu, dan amal, demikian penjelasan Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, (Ilham Kadir, 2023).

Dalam Islam, ilmu dan adab merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan, karena saling menguatkan antara satu dengan lainnya.

Ilmu tanpa adab laksana jasad tanpa ruh, dan adab tanpa ilmu ibarat orang berjalan tanpa arah dan petunjuk.

Keduanya harus bersinergi, sebab berilmu tanpa adab akan dimurkai (al-maghdhūb) sedangkan beradab tanpa ilmu merupakan kesesatan (al-dhālīn).

Kedua kata kunci ini ‘ilmu dan adab’ ternyata menjadi masalah utama dan mendasar yang sedang menimpa umat Islam.

Ilmu telah dijauhkan dari nilai iman dan akhlak yang merupakan inti dari adab.

Inilah yang dianalisa oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, lalu menarik kesimpulan bahwa segenap kehancuran menimpa umat Islam berpangkal dari lost of adab alias hilangnya adab.

Efek buruk dari fenomena lost ofa adab adalah terjadinya kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, hasil akhirnya ditandai dengan lahirnya pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat melainkan juga tidak memiliki akhlak luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual memadai.

Sehingga mengakibatkan kerusakan dalam berbagai dimensi kehidupan, mulai dari kerusakan dalam skala individu, keluarga, masyarakat, bangsa, hingga negara, (Al-Attas, 1980).

Internalisasi nilai adab dalam iman dan ilmu juga dijelaskan oleh Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), katanya, At-Tauhīd yūjib al-īmāna, faman lā īmāna lahu lā tauhīda lahu, wal- īmānu yūjib al-syarīah. Fa man lā syarīata lahu, lā īmāna lahu wa lā tauhīda lahu, wa al-syarīah tūjibul adaba, fa man lā adaba lahu, lā syarīata lahu wa lā īmāna wa lā tauhīda lahu. (Hasyim Asy’ari, 1415: 11).

Tauhid mewajibkan adanya iman, barangsiapa tidak beriman, pasti ia tidak bertauhid, dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya ia pasti tidak memiliki iman dan tidak pula bertauhid.

Dan syariat mewajibkan adanya adab, maka barangsiapa yang tidak beradab pada dasasrnya tiada syariat tiada iman, dan tiada tauhid padanya.

Pentingnya ilmu dan adab dalam tradisi keilmuan Islam, menurut Ahmad Alim, telah mendorong perhatian para ulama untuk melahirkan karya-karya unggulan tentang konsep ilmu dan adab, dengan kajian mendalam dan komprehensif, (Adian Husaini, dkk: 2014. 191).

Menurut Aidh Al-Qarni, dakwah Nabi Muhammad mencakup tiga unsur utama, berdasarkan Firman Allah (Al-Jumu’ah[62]: 2), ‘Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka untuk membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka [yuzakkīhim], mengajarkan mereka al-Qur’an [wa yu’allimuhum al-kitāb], dan as-Sunnah [wa al-hikmah].

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved