Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Meneladani Pahlawan

Ia menjadi relevan sebagai pijakan berpikir dalam merefleksikan betapa pentingnya menapaktilasi perjuangan para pahlawan

Editor: Sudirman
Ist
Muzakkir Djabir, Peminat Isu-isu Sosial Politik dan Geostrategik/Diaspora Indonesia di Amerika Serikat   

Muzakkir Djabir

Peminat Isu-isu Sosial Politik dan Geostrategik/Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
 
Pidato kenegaraan terakhir Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia pada 17 Agusuts 1966, “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, atau disingkat Jas Merah, melegenda.

Ia menjadi relevan sebagai pijakan berpikir dalam merefleksikan betapa pentingnya menapaktilasi perjuangan para pahlawan, menyelami gagasan, kiprah dan pengabdian mereka kepada negara.

Meskipun kita pahami, pidato Jas Merah dimaksudkan sebagai pembelaan diri sekaligus penolakan Soekarno terhadap ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang mendelegitimasi kekuasaannya, keputusan yang memperluas wewenang Surat Perintah 11 1966 (Supersemar).

Instrumen politik yang menjadi entry point pemakzulan Soekarno dari singgasana kepresidenannya.

Soekarno dalam pidato Jas Merah itu, secara tersirat berpesan jangan abai menghormati, mengapresiasi pengorbanan para pendahulu yang telah berdarah-darah memperjuangkan kemerdekaan.

Jangan karena ambisi kekuasaan, sehingga bermanuver dan menelikung.

Faktanya, Soekarno jatuh dan digantikan Soeharto sebagai Pejabat Sementara Presiden melalui sidang MPRS pada 7 Maret 1967.

Terlepas, dari dinamika politik kekuasaan yang melingkupinya.

Seruan Soekarno untuk tidak melupakan sejarah sangat berharga dan menjadi semacam warning, khususnya bagi generasi muda.

Supaya mempelajari kilas balik perjalanan kebangsaan kita.

Sungguh penting mengenali kembali pergumulan para the founding fathers and mothers republik.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya, ucap Soekarno.

Dengan mempelajari sejarah, kita dituntun meneropong suatu fakta atau rangkaian peristiwa di masa lalu yang berkontribusi penting dalam mengonstruksi diri kita sebagai entitas masyarakat suatu bangsa.

Cendekiawan par excellence keturunan Prancis, Michel Foucault, menjelaskan bahwa sejarah merupakan konstruksi sosial yang dipenuhi dengan kekerasan politik, kekuasaan yang serakah, serta persekongkolan antara pengetahuan dan kekuasaan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved