Opini
Meneladani Pahlawan
Ia menjadi relevan sebagai pijakan berpikir dalam merefleksikan betapa pentingnya menapaktilasi perjuangan para pahlawan
Negara dikelola layaknya perseroan terbatas (PT), diatur sesuai kehendak pemegang saham alias oligarki.
Prinsip-prinsip good governance dipinggirkan, kebijakan Presiden bagaikan titah Raja yang mutlak ditunaikan.
Mirip dengan sindiran Gus Mus tentang republik rasa Kerajaan, demokrasi Indonesia sedang di titik nadir, demokrasi yang dikendalikan oleh politisi para penjahat (Anders Uhlin, 2017).
Defisit keteladanan yang ditandai dengan hilangnya integritas, kejujuran, etika dan kian tingginya keserakahan dari para elit, semakin menyebabkan negara kita terperosok ke jurang ketertinggalan, tragis jika hal itu disebabkan karena ulah anak bangsa sendiri.
Peringatan Hari Pahlwan hendaknya tidak sekedar seremoni, tetapi menjadi momentum untuk mereproduksi nilai-nilai substantif yang diwariskan para pahlawan.
Direfleksikan, diinternalisasi dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menghidupkan kesederhanaan sosok Hatta, seorang Wakil Presiden yang tak mampu menunaikan mimpinya membeli sepatu Bally hingga ajal menjemputnya.
Kejujuran seorang Jenderal Hoegeng dan Baharuddin Lopa yang melegenda serta banyak lagi pahlawan dan tokoh-tokoh republik ini yang meninggalkan legacy dan keteladanan.
Tumbuh suburkan jiwa altruisme sebagai jalan kembali menuju kewarasan bernegara di republik yang kita cintai!(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muzakkir-Djabir-Peminat-Isu-isu-Sosial-Politik.jpg)