Opini
Dark Academia: Temaram di Menara Gading
Sebuah praktik hitam perguruan tinggi, dengan segera mengingatkan saya pada Peter Fleming, penulis buku Dark Academia: How Universities Die.
Bisnis bukan sesuatu yang buruk.
Secara intrinsik ia bernilai, tapi sesungguhnya nilainya akan ditentukan dengan pertanyaan “untuk apa bisnis itu dilakukan?”
Pertanyaan ini sama pentingnya dengan bunyi pertanyaan akan kemana arah perguran tinggi sekarang?
Kisi-kisi untuk menjawab pertanyaan itu dapat ditelusuri jauh ke belakang, ketika neoliberalisasi berhasil menundukkan perguran tinggi menjadi unit-unit bisnis berskala nasional, bahkan global.
Bukan saja sektor pendidikan, sektor publik lainnya sejak itu mulai mengalami tiga prinsip penting dalam pengelolaannya: privatisasi, swastanisasi, dan liberalisasi.
Banyak kritikus pendidikan dan juga perguruan tinggi menyatakan, bahaya paham ekonomi neoliberal terhadap pendidikan.
Salah satu kritikus yang mengambil jarak terhadap, terkhusus kapitalisme adalah Pierre Bourdieu. Ia mengkritik relasi paham kapitalisme kepada pendidikan melalui kekerasan simbolik dalam tradisi pembelajaran yang lebih mewakili kelas dominan.
Sama halnya Bourdieu, kritikus lainnya seperti Ivan Illich dan Neil Postman. Mereka melihat pengaruh cara pandang pengelolaan institusi pendidikan dengan cara ekonomistik membuat sekolah mengalami kegagalan sejak mereka menetapkan tujuan mulianya.
Semua kritik dari nama-nama di atas memperingatkan, tidak terkecuali perguruan tinggi, dunia pendidikan pada umumnya sedang berjalan mendekati ajalnya.
Sebabnya dapat dilihat dari dua logika yang berjalan bersamaan secara ambivalen di bawah atap-atap institusi pendidikan. Yaitu logika penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi profit di satu sisi, dan kegiatan-kegiatan akademik yang memiliki tanggung jawab pengabdian kepada masyarakat sebagai lembaga publik.
Dua motivasi yang berbeda ini akan menjadi sangat fatal jika masing-masing saling mengisi satu sama lain. Seperti misalnya tujuan suci misi pengabdian yang bercampur dengan niat licik beorientasi keuntungan.
Bourdieu dengan nada sinistik menganilisis kecenderungan menggerogoti motivasi akademisi yang tidak lagi berhasrat dalam mencari imu pengetahuan. Tapi lebih ngeh dengan kedudukan akademik dalam hirarki perguruan tinggi sebagai homo academicus: sesuatu yang banyak terjadi di perguruan tinggi di Indonesia.
Dampak dari marketisasi perguruan tinggi ini di sisi lain juga ikut mengeksploitasi relasi dosen dengan mahasiswa.
Sebagai konsumen, mahasiswa tidak dipandang lagi sebagai subjek kebudayaan yang membutuhkan bimbingan dan arah untuk menentukan masa depan kemanusiaannya.
Melainkan diposisikan sebagai makhluk ekonomi yang dipersiapkan agar dapat selaras dengan dunia kerja pasca ia menginvestasikan modalnya di dalam perguruan tinggi.
Dalam proses itu perguruan tinggi tidak sedang berdedikasi untuk meningkatkan pengetahuan manusia dan peradaban, melainkan menjadi kontraktor yang kelelahan akibat mengejar kesejahteraan finansial institusi. Sebuah pedagogi hitam!
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.