Opini
Dark Academia: Temaram di Menara Gading
Sebuah praktik hitam perguruan tinggi, dengan segera mengingatkan saya pada Peter Fleming, penulis buku Dark Academia: How Universities Die.
Tidak jauh berbeda dengan sistem bisnis pada umumnya, cuman ini beroperasi menggunakan buku-buku, gelar, ijazah, sertifikat, dan tentu saja jurnal berskala internasional.
Nyaris menjadi tatanan global, perguruan tinggi di seluruh dunia mengalami apa yang Fleming katakan menjadi sebagai pabrik pengetahuan.
Coba Anda bayangkan betapa menyedihkannya istilah ini, tapi ini merupakan dampak lanjutan dari restrukturisasi perguruan tinggi di seluruh dunia saat ini.
Salah satunya ketika kepakaran akademisi dikendalikan secara ketat melalui metrik kinerja berbasis indikator kinerja utama.
Indikasi lain dari transformasi ini sudah tentu gampang terlihat: tekanan kepada program studi untuk menyerap sebanyak-banyaknya mahasiswa.
Dan, seperti yang sudah terjadi di Indonesia, kampus-kampus cukup bangga jika sudah sampai ke taraf kampus mandiri (BLU).
“Instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.”
Ini merupakan definisi pasal 1 PP No 23 Tahun 2005, tentang satuan kerja BLU, yang mengubah kampus menjadi bak perusahaan, sekaligus di waktu bersamaan masih mengagendakan tugas-tugas kemanusiaannya di bawah panji-panji tiga darma perguruan tinggi.
Jadi, sudah cukup jelas kemana arah perguruan tinggi mengarahkan biduk layarnya di bawah frasa “jasa yang dijual”, dengan mengutamakan prinsip “efisiensi” dan “produktivitas”.
Nampak familiar sebagai sebuah istilah dalam ilmu ekonomi.
Fleming menyebut, semua proses perguruan tinggi untuk menjadi independen dilakukan dalam rangka merelevankan dirinya dengan dunia bisnis.
Dari kasus Fleming sendiri, “relevansi bisnis” berarti perguruan tinggi harus menunjukkan dampak sosial yang lebih besar dan mencari pembenaran bahwa kegiatan-kegiatan di dalamnya dilakukan demi kontribusinya pada semangat inovasi dan peningkatan ekonomi.
Itu artinya, untuk sampai di sana, perguruan tinggi biasanya melakukan kerja sama industri dengan perusahaan-perusahaan agar tetap bersenyawa dengan dunia kerja.
Contoh kecil yang menandai keselarasan dunia ilmu pengetahuan dengan dunia bisnis ditunjukkan Fleming berupa patenisasi pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang diarahkan menjadi properti (komodifikasi pengetahuan).
Di kampus negeri di Indonesia, bahkan para dosen muda sudah dapat membuat hak paten atas nama kekayaan intelektual meski karya yang dihasilkannya diciptakan dalam rangka untuk memenuhi poin kinerjanya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.