Opini
Tumpul Rasa
Begitulah Sang Arung, sebagai seorang kepala pemerintahan, disentuh ketajaman rasa kemasyarakatan yang dimilikinya.
Benar-benar sebuah ironi, oleh karena fungsi pemerintahan dihadirkan dalam wujud tumpul rasa kemasyaraatan pemimpin pemerintahan.
Apakah tata kelola sistem penyelenggaraan pemerintahan, semuanya harus terpulang pada pucuk pimpinan pemerintahan?
Ada pelajaran menarik dari seorang mantan kepala daerah yang pernah menghadapi permasalahan masyarakat yang berskala besar dan amat kompleks.
Untuk efektivitas manajemen pemerintahan yang dikelolanya, konon modusnya hanya menyiapkan pertanyaan-pertanyaan kecil kepada segenap perangkat jajarannya.
Bila ada prilaku menyimpang warga usia muda di suatu bagian wilayah yang dipimpinnya, misalnya, pertanyaan kecil pada penanggung jawab pemerintahan bagian wilayah itu, bagaimana menghilang prilaku menyimpang tersebut.
Jelas sekali bahwa kepemimpinan organisasional yang telah dipraktekkannya dan bukan one show.
Hal ini sekaligus juga mewujudkan pandangan ahli manajemen, bahwa seorang pimpinan adalah sejatinya seorang pelatih (coach), bukan komandan.
Menantang kreativitas dan inovasi perangkat jajaran pemerintahan, bukan dengan sekedar menggonta ganti mereka, yang sering dibarengi faktor like or dislike.
Suka atau tidak suka, harus disadari bahwa ada sejumlah hal yang bias dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan kita dewasa ini.
Para pimpinan puncak pemerintahan sudah sepatutnya mampu meleburkan diri dan kepemimpinannya pada kepentingan organisasi yang dipimpinnya.
Mungkin awal pembiasan mulai terbentuk karena pengagungan pada visi kepemimpinan, yang mendorong sang pemimpin menjadi egosentris, sehingga kinerja dijadikan cenderung mempribadi.
Sesuatu yang sudah saatnya dikoreksi kembali. Tidak mustahil ini pula yang telah menjadikan pimpinan yang tumpul rasa. Bahkan termasuk dalam menghadapi unjuk rasa masyarakat.
Masih diseputar faktor rasa ini, mungkin menarik mengangkat kembali suatu fakta juga di kabupaten Wajo.
Penulis pernah bertanya pada Sang Bupati yang tidak bersedia untuk mengikuti Pilbup berikutnya, mengapa?
Dengan sederhana menjawab, sesederhana diri pribadinya, apa gunanya menjadi Bupati bila masyarakat sudah secara lantang dihadapan saya dengan teriakan protes sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya.
Tidak ada lagi kewibawaan sebagai seorang Bupati. Senyatanya ia bukan seorang yang tumpul rasa!(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/AM-Sallatu-Peneliti-Dosen-Emiritus-FEB-Unhas-g.jpg)