Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Tragedi Kanjuruhan Paling Mematikan di Indonesia

Tragedi yang terjadi pada Derby Jawa Timur itu disebut-sebut menimbulkan korban jiwa kedua terbanyak sepanjang sejarah insiden sepak bola di dunia.

Tayang:
Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/dahlan abubakar
M Dahlan Abubakar merupakan penulis Rubrik Opini Tribun Timur berjudul 'Tragedi Kanjuruhan Paling Mematikan di Indonesia'. 

“Kami memahami keputudan PSSI menghentikan kompetisi, namun hendaknya kepentingan pemain juga harus diperhatikan,” ujar mendiang Rony Pattinasarani yang ketika itu menjabat Direktur Teknik Persija Jakarta.

Pada tanggal 4 Juni 2018 kematian seorang supurter Persija, Baringga Sirla, di tangan Bobotoh Persib Bandung memantik PSSI menghentikan Kompetisi Go-Jek Liga I pada tanggal 23 September 2018.

Tetapi cerita pilu dan sedih anak manusia yang menonton pertandingan sepak bola di Indonesia tidak terhenti sampai di situ.

Catatan yang dapat ditemukan di dunia maya menyebutkan, sejak kompetisi sepak bola Indonesia 2005 hingga 2018 tercatat 75 nyawa melayang berkaitan dengan keterlibatannya menonton pertandingan sepakbola.

Banyak di antara para korban meregang nyawa karena dikeroyok pendukung tim lawan.

Dari catatan-catatan itu korban terbanyak terjadi sepanjang tahun 2018, yakni 17 orang, sementara pada periode 2014-2017 angkanya mencapai 15 orang. Tentu saja pertandingan yang paling “mematikan” terjadi di Staduon Kanjuruhan Malang, saat 129 (angka-angka terus berubah) nyawa melayang.

Tragedi Sepak Bola Dunia

Bagi Indonesia, kerusuhan pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang itu merupakan yang paling parah meminta korban jiwa.

Musibah di Kanjuruhan Malang itu bagaikan gunung es karena di berbagai tempat pada setiap kompetisi Liga I Indonesia kerap terjadi kerusuhan akibat ketidakpuasan penonton (tuan rumah) yang tidak siap menerima tim kebanggaannya tumbang.

Bahkan beberapa waktu lalu, dalam kompetisi Liga III saja penontonnya malah sudah “mulai belajar” rusuh.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, terjadi sedikitnya 14 tragedi kerusuhan suporter di dunia. Pada Mei 1964 di Peru, saat pertandingan kualifikasi Olimpiade antara Peru vs Argentina, wasit menganulir gol Peru hanya beberapa menit sebelum pertandingan berakhir.

Keputusan wasit itu memicu protes dari penggemar tuan rumah yang berubah menjadi kerusuhan setelah Argentina memenangkan pertandingan. Kejadian itu menewaskan 318 orang dan melukai lebih dari 500 orang.

Januari 1971 di Skotlandia, 66 orang tewas, termasuk anak-anak saat pembatas di tangga runtuh ketika penonton meninggalkan lokasi pertandingan antara Rangers dengan Celtic di Glasgow.

Sementara pada Oktober 1982 di Rusia, fans berjatuhan tatkala mereka meninggalkan pertandingan piala UEFA antara Moscow Spartak melawan tim Belanda HFC Haarlem di stadion Luzhniki di Moskow.

Pejabat bekas Uni Soviet tidak mengungkapkan tragedi itu selama bertahun-tahun. Ketika informasi disebar ke publik, mereka memberikan data angka kematian resmi mencapai 66, meski jumlahnya bisa mencapai 340 orang.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved