Opini

Tragedi Kanjuruhan Paling Mematikan di Indonesia

Tragedi yang terjadi pada Derby Jawa Timur itu disebut-sebut menimbulkan korban jiwa kedua terbanyak sepanjang sejarah insiden sepak bola di dunia.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/dahlan abubakar
M Dahlan Abubakar merupakan penulis Rubrik Opini Tribun Timur berjudul 'Tragedi Kanjuruhan Paling Mematikan di Indonesia'. 

Oleh:

M Dahlan Abubakar
Tokoh Pers versi Dewan Pers

TRIBUN-TIMUR.COM - Stasion Kompas TV, sepanjang malam Sabtu (1/10/2022) hingga Ahad (2/10/2022) habis-habisan menayangkan tragedi pertandingan sepakbola di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu malam.

Musibah itu terjadi karena penonton tuan rumah, Arema FC yang takluk 2-3 atas tamunya, Persebaya Surabaya sangat terpukul dengan kekalahan kandang tersebut.

Tragedi yang terjadi pada Derby Jawa Timur itu disebut-sebut menimbulkan korban jiwa kedua terbanyak sepanjang sejarah insiden sepak bola di dunia, karena jumlah korbannya yang mencapai 127 orang, bahkan bisa lebih dari itu.

"Sebanyak 127 tewas, dua di antaranya adalah petugas polisi, 34 meninggal di dalam stadion sisanya di rumah sakit," kata Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta, mengutip ABC News, Minggu (2/10/2022) kepada awak media yang dikutip CNBC Indonesia.

Presiden FIFA Gianni Infantino sebagaimana dikutip CNBC yang langsung bereaksi atas musibah di Malang itu berkata, dunia sepak bola sedang ‘shock’ menyusul insiden tragis selepas pertandingan Liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan itu.

"Ini adalah hari yang gelap bagi semua yang terlibat dalam sepak bola dan sebuah tragedi di luar pemahaman," ujar pria kelahiran Swiss 23 Maret 1970 dan mulai menjabat Presiden FIFA 26 Februari 2016 tersebut.

"Bersama FIFA dan komunitas sepak bola global, semua pikiran dan doa kami bersama para korban," kata suami dari Leena Al Ashqar yang sudah memberinya empat anak itu.

Kerusuhan pertandingan sepakbola ini memantik Presiden Joko Widodo memerintahkan penghentian sementara kompetisi Liga I Indonesia yang sudah memasuki minggu ke-10.

Penghentian kompetisi sepak bola di Indonesia bukan kali pertama. Pada musim 1997/1998, kompetisi sepak bola Indonesia pernah dihentikan.

Tetapi penyebabnya bukan soal kerusuhan, melainkan masalah politik yang dikhawatirkan bakal memunculkan kerusuhan politik yang membonceng pertandingan sepak bola.

PSM yang awal-awal kompetisi terpuruk, saat dihentikan sudah memimpin klasemen Grup Timur.

Keputusan PSSI yang ketika itu dipimpin Azwar Anas, mantan Gubernur Sumatera Barat yang mengetuai PSSI setelah menjabat menteri di Kabinet Soeharto menimbulkan reaksi dari penggemar sepak bola.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved